Memaknai Tradisi Jamasan Tombak Kyai Wijoyo Mukti di Balaikota Jogja sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Kamis, 04 Oktober 2018 13:17 WIB
Memaknai Tradisi Jamasan Tombak Kyai Wijoyo Mukti di Balaikota Jogja sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja

Kirab sebelum prosesi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti sebagai bagian dari perayaan HUT Pemkot Jogja ke 262, Kamis (4/10/2018)./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak

Harianjogja.com, JOGJA- Pemkot menggelar prosesi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti sebagai bagian dari perayaan HUT Pemkot Jogja ke 262, Kamis (4/10/2018).

Prosesi siraman dalem pusaka tombak Kyai Wijoyo Mukti dipimpin langsung oleh Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi. Diawali dengan kirab budaya yang diikuti sejumlah abdi dalem dan 18 kelurahan budaya serta 2 rintisan kelurahan budaya.

"[Prosesi jamasan] Ini seperti barang-barang yang kita miliki. Barang itu dirawat, dimandikan, dibersihkan supaya tahan lama," kata Heroe di sela kegiatan.

Sebelum diarak menuju lapangan Balaikota, pusaka yang selama ini disimpan di ruang Walikota Jogja itu dikeluarkan untuk dijamas. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang digelar di halaman Air Mancur Balaikota, ritual jamasan tahun ini digelar di lapangan Balaikota.

Alunan gamelan selama prosesi jamasan semakin memperkuat suasana dan menambah khidmat. Uba rampe dan tahapan jamasan tidak mengalami perbedaan karena menjadi pakem dan mengikuti prosesi di Kraton Ngayogyakarta. Bahan-bahan yang digunakan seperti air kembang, jeruk nipis, arsenikum, minyak hingga kawul dan mandung.

Menurut Heroe, Tombak Pusaka Kyai Wijoyo Mukti tersebut merupakan pemberian dari Kraton Ngayogyakarta Sri Sultan HB X pada tahun 2000 lalu. Sesuai dengan pamornya, tombak tersebut memiliki pesan atau simbol agar pemimpin bisa bekerja dengan baik untuk membawa masyarakat semakin sejahtera.

Tombak pusaka tersebut dibersihkan setiap tahun, sebagai lambang dan harapan Gubernur DIY sekaligus Raja Ngayogyakarta agar jajaran Pemkot bisa bekerja lebih baik lagi dibandingkan sebelumnya.

"Ini pesan raja memberikan dalam bentuk pusaka. Pesan ini harus terus diingat, bagaimana menyegarkan kembali semangat aparat untuk membawa Jogja lebih baik lagi," katanya.

Saat menjamas tombak pusaka, Heroe tampak piawai membersihkan tombak. Meski baru pertama mengikuti prosesi tersebut, Heroe mengaku sudah terbiasa mencuci barang (pusaka). "Ya dihayati, seperti menyuci mobil, menghayati satu persatu," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online