Panen Singkong Gunungkidul Capai 22 Ton per Hektare
Panen singkong mulai berlangsung di Gunungkidul dengan produktivitas mencapai 22 ton per hektare. Hasil penjualan gaplek menjadi penopang ekonomi warga di tenga
Ilustrasi rumah sakit/Reuters
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Proses pembangunan rumah sakit tipe D di Saptosari belum selesai. Namun, Dinas Kesehatan Gunungkidul berencana meningkatkan status dua puskesmas menjadi Rumah Sakit Umum Daerah tipe D.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, dua puskesmas yang akan ditingkatkan statusnya adalah Puskesmas II Ponjong dan Puskesmas II Patuk. Menurut dia, wacana peningkatan sudah dimulai dengan proses pembebasan lahan untuk pembangunan.
Hanya saja, sambung Dewi, realisasi pembangunan masih harus menunggu selesainya pembangunan rumah sakit tipe D di Saptosari yang saat ini masih dalam proses.
“Kita fokus dulu di RSUD Tipe D Saptosari yang direncanakan beroperasi di 2020. Yang jelas, setelah pembangunan itu selesai, maka kami akan mulai fokus untuk peningkatan status di dua puskesmas,” kata Dewi kepada wartawan, Kamis (15/11/2018).
Dia menjelaskan, wacana menaikan dua puskesmas merupakan program dari Pemkab Gunungkidul untuk meningkatkan kualitas layanan di bidang kesehatan.
“Kita akan terus berusaha baik peningkatan sarana dan prasarana pendukung maupun kualitas dalam melayani masyarakat oleh tim medis harus sesuai dengan standar yang dimiliki,” ungkapnya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul menambahkan, sebelum proses pembangunan dilakukan akan disusun detail engineering design (DED). Selain itu, ia menaksir untuk pembangunan dua rumah sakit ini membutuhkan anggaran sekitar Rp90 miliar.
“Masing-masing Rp45 miliar. Adapun rinciannya Rp20 miliar untuk fisik, Rp25 miliar untuk penyediaan sarana kesehatan,” katanya.
Sekretaris Komisi D DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mendukung upaya pemkab meningkatkan fasilitas kesehatan kepada masyarakat. Menurut dia, peningkatan tersebut sangat penting untuk memberikan layanan terbaik sehingga masalah kesehatan dapat tertagani dengan baik.
“Masalah kesehatan merupakan hal yang pokok, jadi harus ditangani secara serius,” katanya.
Menurut dia, untuk pelayanan kesehatan di Gunungkidul masih butuh perbaikan karena masih ada laporan terkait dengan keluhan dari masyarakat.
“Upaya peningkatan pelayanan bisa dilakukan dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia juga dengan melengkapi fasilitas kesehatan yang dimiliki. Contohnya dengan memperkuat peran dari puskesmas sebagai layanan kesehatan pertama sehingga pelayanannya dapat maksimal sehingga tidak langsung rujuk ke faskes tingkat lanjutan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Panen singkong mulai berlangsung di Gunungkidul dengan produktivitas mencapai 22 ton per hektare. Hasil penjualan gaplek menjadi penopang ekonomi warga di tenga
KAI Bandara YIA membagikan merchandise kepada penumpang anak dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Stasiun Yogyakarta dan Stasiun YIA.
Sebanyak 113 SPPG di Bantul telah beroperasi untuk program MBG, sementara 22 unit lainnya masih belum berjalan karena berbagai kendala.
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Polresta Jogja menetapkan lima tersangka baru kasus Little Aresha Daycare. Total tersangka kini mencapai 32 orang dengan 157 anak menjadi korban.
Ekonom menilai penunjukan Destry Damayanti sebagai Pjs. Gubernur BI mampu menjaga kepercayaan pasar selama masa transisi kepemimpinan.