Jadwal Lengkap 76 Indonesian Downhill 2026: Bantul Jadi Arena Neraka
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Foto terjadinya guguran kubah lava dari Kaliadem, Sabtu (29/12/2018)./Ist- Gitsayanto via Twitter BPPTKG
Harianjogja.com, JOGJA--Meskipun berkali-kali Gunung Merapi mengeluarkan guguran lava pijar, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja menegaskan jika saat ini pertumbuhan kubah masih lambat.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan sampai saat ini tidak ada perubahan aktivitas yang signifikan meskipun guguran lava pijar Gunung Merapi sering terjadi belakangan ini. Kondisi tersebut juga tidak mengubah status Merapi pada level II (waspada).
"Ya memang karena masih ada aktivitas di atas normal, maka status Merapi masih waspada," jelasnya kepada Harian Jogja, Senin (21/1/2019).
Status tersebut, lanjut Hanik, dasarnya bukan pada letusannya tetapi pada potensi bahaya dan ancamannya. Hal itu perlu dipahami oleh masyarakat. Guguran yang terjadi di Merapi juga tidak selalu terjadi setiap hari. Guguran yang terjadi juga tidak selalu berupa lava pijar. Aktivitas guguran tersebut merupakan fenomena biasa akibat pertumbuhan kubah lava.
Pihaknya menilai jumlah guguran yang terjadi setiap hari antara 30 hingga 50 kali. Jumlah tersebut masih rendah jika dibandingkan erupsi 2010 di mana jumlah guguran tercatat ratusan kali dalam sehari. Erupsi Merapi saat ini belum bisa dipastikan.
"Yang pasti saat ini terjadi erupsi efusif dengan ditandai pertumbuhan kubah lava dan sampai saat ini kubah lava masih tumbuh dengan kecepatan tumbuh yang rendah," kata Hanik.
Sekadar diketahui, berdasarkan Laporan Kegempaan Merapi per tanggal 20 Januari 2019 tercatat 35 kejadian. Rinciannya guguran terjadi sebanyak 28 kali, hembusan empat kali, low frekuensi, tektonik lokal dan tektonik jauh masing-masing sekali. Adapun aktivitas Merapi hingga Senin (21/1) pagi terjadi 10 kali guguran 10 kali dengan durasi 12-48 detik.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantara mengatakan jalur evakuasi sudah disiapkan termasuk juga barak pengungsian jika sewaktu-waktu ada perubahan status gunung Merapi. "Itu sudah menjadi kebijakan Pemda dan SOP dalam evakuasi bila terjadi hal-hal yang perlu direspon dengan evakuasi," katanya.
Sampai saat ini, lanjut Biwara, kubah lava masih stabil dan pertumbuhannya juga rendah. Dengan status waspada yang ditetapkan, maka rekomendasi yang diberikan masih sama alias tidak berubah. Aktivitas masyarakat tidak boleh dilakukan di area 3km dari puncak gunung. "Tentu upaya meningkatkan kewaspadaan terus ditingkatkan, termasuk mengkondisikan masyarakat yang ada di kawasan KRB III," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.