Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi BPJS Kesehatan./Bisnis Indonesia-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Peserta BPJS Kesehatan dari non penerima bantuan iuran (PBI) atau yang dikenal dengan peserta mandiri tidak lagi mendapatkan layanan secara gratis. Pasalnya para peserta mandiri akan dikenakan urun biaya sesuai aturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.51/2018 tentang Pengenaan Urun Biaya dan Selisih Bayar dalam Program Jaminan Kesehatan.
Di pasal 9 dijelaskan tentang besaran urun biaya terhadap layanan kesehatan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan pelayanan. Adapun besaran urun biaya kunjungan rawat jalan pada rumah sakit kelas A dan B sebesar Rp20.000 sekali kunjungan, sedangkan untuk rumah sakit kelas C, D dan klinik utama dibebankan Rp10.000.
Selain itu aturan tersebut juga membatasi jumlah biaya paling tinggi untuk kunjungan rawat jalan sebesar Rp350.000 dan maksimal kunjungan sebanyak 20 kali dalam jangka waktu tiga bulan. Permenkes juga mengatur pembatasan biaya yang ditanggung oleh peserta rawat jalan sebesar 10% dari biaya yang dihitung dari total tarif Sistem Indonesia Case Base Groups (INA-CBG) atau tarif layanan kesehatan yang dipatok pemerintah atau paling tinggi Rp30 juta.
Kepala Kantor BPJS Kesehatan Cabang Wonosari, Syarifatun Kurnia Ekawati, mengatakan aturan tentang urun biaya sudah dituangkan dalam Permenkes No.51/2018. Ia memastikan urun biaya hanya berlaku bagi peserta non-PBI, sedangkan peserta yang dibiayai oleh Pemerintah Pusat, pemerintah rovinsi dan kabupaten tidak dikenakan beban tersebut. “Ini hanya berlaku untuk peserta non-PBI atau di masyarakat dikenal dengan istilah peserta mandiri,” kata Nia, sapaan akrabnya saat dihubungi Senin (28/1/2019).
Meski detail aturan sudah ada namun untuk pelaksanaan masih menunggu kebijakan dari Kementerian Kesehatan. “Kami masih menunggu aturan terkait dengan pemberlakuan urun biaya yang telah dicanangkan,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka. Menurut dia jajarannya masih menunggu karena Permenkes itu belum lama diterbitkan. “Saat ini kami masih rapat di Pemda DIY membahas Permenkes No.51/2018 dan kami masih menunggu hasil rapat tersebut,” katanya.
Menurut dia, adanya peraturan baru ini berpotensi menimbulkan berbagai komentar di masyarakat. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Dinkes Gunungkidul siap membantu dalam upaya sosialisasi ke masyarakat. “Kami pasti membantu karena pasti ada beragam komentar yang muncul. Agar masyarakat paham terkait dengan aturan urun biaya maka kami siap melakukan sosialisasi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Kimaya Sudirman Yogyakarta menghadirkan dua program spesial sepanjang Agustus 2026
Media Jepang menyoroti fenomena ratusan WNI yang menggunakan nama karakter anime seperti Naruto, Uzumaki, Nobita, hingga Sasuke berdasarkan data Dukcapil Semest
Korban tewas gempa magnitudo 7,4 di Kolombia bertambah menjadi 265 orang. Sebanyak 3.494 warga terluka dan 496 lainnya masih dinyatakan hilang.
EcoTank Epson tembus penjualan 100 juta unit secara global. Indonesia menjadi negara pertama yang memperkenalkan teknologi printer tangki tinta Epson.
Google resmi meluncurkan Pixel 11 Series yang terdiri dari Pixel 11, Pixel 11 Pro, Pixel 11 Pro XL, dan Pixel 11 Pro Fold. Dibekali Tensor G6, Gemini AI terbaru