Perencanaan Pembangunan Harus Responsif Gender dari Tingkat Desa

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Kamis, 07 Maret 2019 05:37 WIB
Perencanaan Pembangunan Harus Responsif Gender dari Tingkat Desa

Anggota DPRD DIY Danang Wahyu Broto saat berbicara dalam sosialisasi soal gender di Balai Desa Argorejo, Sedayu, Rabu (6/3/2019)./ Harian Jogja-Ujang Hasanudin

Harianjogja.com , BANTUL--Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY meminta perencanaan dan pembangunan tingkat desa tidak hanya fokus membangun infrastruktur, namun juga membangun sumber daya manusia (SDM).

Dalam pembangunan SDM juga harus melibatkan semua pihak, "Kami dorong pemerintah desa dan semua stakeholder di desa agar dalam perencanaan penganggaran pembangunan lebih responsif gender," kata Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan DP3AP2 DIY, Nelly Tristiana dalam acara sosialisasi pemahaman gender untuk masyarakat DIY 2019 di Balai Desa Argodadi, Sedayu, Rabu (6/3/2019).

Dalam proses perencanaan dan pembangunan, Nelly meminta semua kelompok masyarakat dilibatkan termasuk dari kelompok yang sering terlupakan, seperti kaum perempuan, penyandang disabilitas, ibu-ibu hamil, anak-anak, dan lanjut usia atau lansia. "Kelompok tersebut terkadang tidak mendapat porsi yang setara dalam pembangunan," kata dia.

Karena itu pemerintah desa perlu melihat kembali apakah kelompok-kelompok yang terafirmasi tersebut sudah terakomodir dalam pembangunan. Jika sudah apakah semua program itu benar-benar dibutuhkan atau tidak. Sebab, kata Nelly jika hanya sekedar program akan menjadi percuma.

Selain itu Nelly juga mengajak semua masyarakat di Argodadi untuk memahami bahwa gender bukanlah persoalan perempuan namun lebih pada penyetaraan peran fungsi dalam kehidupan sosial. "Bukan berarti perempuan minta diistimewakan tapi ada pembagian peran," kata dia.

Meski sudah banyak perempuan yang menempati pos-pos jabatan publik, namun pembagian peran belum berjalan. Ia mencontohkan terkadang masih ada anggapan bahwa kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak adalah perempuan.

Ia tidak memungkiri pengarus budaya patriarki juga masih cukup kuat sehingga peran ganda perempuan di rumah terkadang mendapat dukungan dari kaum perempuan juga. Nelly juga berbagai pengalaman dalam sebuah diskusi ditanya oleh peserta bahwa suaminya itu sudah berbagi peran di antaranya mengasuh anak dan menjemur pakaian.

Namun saat menjemur itu ada yang menegur tetangganya yang kebetulan perempuan, "Wong lanang kok jerengi pakaian? Istrinya kemana," cerita Nelly. Dari cerita tersebut menunjukan budaya patriarki masih mendapat dukungan dari kaum perempuan juga. Padahal baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama dalam melaksanakan kegiatan di masyarakat.

Sementara itu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Danang Wahyu Broto mendukung adanya sosialisasi pemahanan soal gender ke masyarakat. Ia juga meminta masyarakat untuk menyamaikan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online