Lepas dari Bencana, Petani Tanami Sawah Lagi

Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan Senin, 15 April 2019 07:57 WIB
Lepas dari Bencana, Petani Tanami Sawah Lagi

Petani di Desa Tayuban, Kecamatan Panjatan mengurusi lahan sawahnya yang sempat terendam banjir pada Senin (18/3) pada Kamis (21/3/2019).-Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo memastikan pasca terendamnya 1.633 hektare lahan pertanian di Kulonprogo pada Maret lalu akibat banjir Siklon Savannah, petani memilih sudah menanami sawahnya lagi.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpangan) Kulonprogo Tri Hidayatun mengungkapkan setelah ada pengecekan dampak kerugian pertanian akibat banjir pada Maret lalu, banyak ditemukan tanaman-tanaman yang rusak.

Menjadi keuntungan tersendiri mengingat rusaknya lahan pertanian akibat terendam banjir tersebut dianggap tidak terlalu parah. “Setelah ditunggu dan surut, ada juga petani yang menyulamnya,” ungkapnya, Sabtu (13/4/2019).

Selain lahan pertanian yang ditanami kembali, ada juga beberapa wilayah yang saat tergenang banjir dalam kondisi siap panen. Menurut Hidayatun, kecamatan yang didatanya saat terendam dalam kondisi siap panen antara lain Kecamatan Temon, Wates, Sentolo, Lendah dan Panjatan.

Dia tidak menampik ada sebagian tanaman yang dalam kondisi rebah. Namun, hasil tanaman itu tetap bisa dipanen. Total luas lahan yang terendam pada banjir yang menggenang pada Maret lalu yaitu 1.633 hektarr. Luas lahan itu terbagi di delapan kecamatan, paling banyak luasan lahan yang terendam ada di Panjatan sebanyak 660 hektare.

Meski petani bisa memanen tanamannya, namun tetap saja hasil panennya tidak maksimal. Salah satu petani di Dusun Mangunan, Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Ngadikam, mengaku hasil penenan di lahannya yang mencapai hampir satu hektare itu hanya mampu didapat setengahnya saja.

Harganya gabahnya pun dikatakan anjlok, dari Rp3.000 menjadi Rp1.500 per kilogram. “Kondisinya saat banjir itu terendam semuanya tetapi dalam kondisi sebentar lagi mau panen. Jadinya tunggu surut lalu panen,” ujar Ngadikam.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online