KENAIKAN HARGA BBM : Sudah Lima Tahun, Uang BLT Masih Mengembik

25 Juni 2013 03:05 WIB Nugroho Nurcahyo Sleman Share :

Bantuan langsung telas, begitulah pelesetan untuk bantuan langsung tunai (BLT) yang dikucurkan sebagai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2008 lalu. Namun istilah itu tidak berlaku bagi Harjo Sutrisno, warga Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Nugroho Nurcahyo.

Sore itu sekira pukul 14.30 WIB, sepulang dari bertani di sawah, Harjo Sutrisno, 63, punya pekerjaan rutin, menggembala ternaknya dua ekor kambing, jantan dan betina. Warga Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman itu sudah lima tahun ini menggembala ternaknya itu.

Saat Harian Jogja menyambangi rumah Sutrisno, Minggu (23/6/2013) sore, di pintu depan rumahnya terdapat stiker berwarna kuning, bertuliskan "Warga Miskin" dengan font huruf berwarna hitam. Stiker itu bukan ditempel di depan pintu seperti stiker pendataan pemilih dalam perhelatan pemilihan umum, melainkan di bagian sisi belakang pintu. Stiker itu memang tak elok dipandang jika harus ditempel di bagian depan rumah.

Sebelumnya, Sutrisno memang tak punya kambing. Ia hanya bertani dan menjadi buruh tani pemilik lahan sawah di pedukuhan Kwagon dan sekitarnya. Kambing itu ia dapat berkat adanya program BLT sebagai kompensasi kenaikan BBM bersubsidi pada 2008 lalu.

Di Padukuhan Kwagon, dana BLT tak langsung digunakan oleh rumah tangga sasaran. Sebelum dana diambil di kantor pos pada akhir 2008 lalu, warga pedukuhan terlebih dulu berembuk. Mereka sepakat menarik dana itu bersama-sama dan mengumpulkannya sebagai modal bersama membentuk kelompok ternak kambing.

Semula Sutrisno hanya mendapat satu kambing muda betina dari iuran dana BLT di kelompok ternak itu. Setelah cukup umur dibuahi, kambingnya pun dikawinkan. Sayang, dua kali kelahiran anak kambing tak mulus. 

“Sampai sekarang indukannya sudah lima kali meteng [bunting],” ungkap Sutrisno. Sayang, dari lima kali bunting dan beranak itu, dua anakannya mati.

Kini, dari dana BLT sebesar total Rp600.000 itu, Sutrisno punya dua kambing, pejantan dan betina. Semuanya sehat-sehat. Total kedua kambingnya itu bernilai lebih dari Rp2 juta. “Yang jantan ini sudah usia empat bulan, belum dewasa, tapi harganya sudah tinggi,” kata dia.

Sutrisno mengaku baru sekali menjual ternak hasil pengawinan indukan miliknya pada 2011 lalu. “Waktu itu laku terjual Rp500.000,” kata dia.

Tukirah, istri Sutrisno, mengaku sebetulnya tak mengharapkan dana bantuan kompensasi kenaikan harga BBM dari pemerintah. Bahkan ketika ada rembukan agar dana BLT akan dipakai sebagai modal kelompok ternak, dia dan suaminya langsung setuju. “Itu kan uang negara, dari pemerintah. Kalau cuma dipakai blonjo-blonjo langsung habis kan eman-eman. Aluwung dingge tumbas ternak, saged manak, ngge duwen-duwen,” kata dia.

Ditemui terpisah, Dukuh Kwagon Sukiman Hadiwijaya,mengatakan, setiap ada dana bantuan dari pemerintah semacam BLT, warga di pedukuhan berpenduduk 669 orang itu memang biasa berembuk terlebih dahulu. Pasalnya, jika warga harus menerima bantuan tunai diam-diam langsung dari kantor pos, pasti bakal muncul rasa saling iri dan menimbulkan suasana tak harmonis di tengah warga.

“Ini BLT 2008, masih tampak wujudnya sampai sekarang karena dikelola dengan baik,” kata dia.

Konflik semacam itu justru tidak bagus dalam masyarakat yang masih mengutamakan guyub rukun dalam kehidupan bertetangga. Apalagi, dana BLT pada 2008, ternyata banyak yang tak sesuai data faktual di lapangan.

“Ada yang dulu tercatat mendapat BLT tapi sudah meninggal, ada yang ternyata orangnya sudah lebih mampu, punya mobil, padahal tetangganya lebih membutuhkan karena sudah tidak produktif,” kata dia.

Itulah kearifan lokal pengelolaan dana BLT di salah satu pedukuhan di Sleman tersebut. Di saat dana BLT 2008 tak lagi berbekas di sebagian masyarakat, dana BLT masih mengembik di rumah Sutrisno. Bantuan langsung telas?  "Mbeeeeeek....." Kambing Sutrisno pun membantah dengan suara embikan yang parau.