Advertisement

27 Reog Hidupkan Telaga Tongtong

Kusnul Isti Qomah
Sabtu, 31 Agustus 2013 - 19:19 WIB
Maya Herawati
27 Reog Hidupkan Telaga Tongtong

Advertisement

[caption id="attachment_442933" align="alignleft" width="500"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/08/31/27-reog-hidupkan-telaga-tongtong-442922/reog-telaga-tong-tong-kusnul-isti-qomah" rel="attachment wp-att-442933">http://images.harianjogja.com/2013/08/reog-telaga-tong-tong-Kusnul-Isti-Qomah-.jpg" alt="" width="500" height="282" /> Salah satu penampilan kesenian reog di Telaga Tongtong, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Sabtu (31/8/2013). (JIBI/Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah)[/caption]

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -Sedikitnya 27 kesenian yang terdiri dari 21 kelompok reog dan enam jathilan turut menghidupkan Telaga Tongtong di Dusun Mengger, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Sabtu (31/8/2013).

Advertisement

Para pelaku seni tersebut berkumpul dalam festival reog dan jathilan yang digelar oleh masyarakat sekitar. Kelompok seni tersebut berasal dari tiga kecamatan yakni Paliyan, Saptosari serta Panggang.

"Satu kecamatan yakni Purwosari absen. Kami memang berkonsentrasi ke empat kecamatan ini dulu untuk pelestarian seni," papar penanggung jawab acara, Dwi Rusjiati Agnes di Telaga Tongtong, Sabtu (31/8/2013).

Ia menuturkan melalui festival tersebut, kesenian yang dimiliki warga tetap bisa dipertahankan. Kesenian seperti reog dan kesenian tersebut diaharapkan akan terus bertahan dan tak tergerus oleh zaman.

"Melalui kegiatan ini kami juga ingin memghidupkan kembali Telaga Tongtong yang sering dimanfaatkan warga untuk mandi dan mencuci," papar dia.

Selain untuk keperluan mandi dan cuci, Telaga Tongtong juga mampu menjadi sumber penghasilan dusun. Telaga yang namanya disamakan dengan nama sumur di sebelah utaranya itu ditebari benih ikan. Setiap musim panen ikan, telaga tersebut dibuka untuk pemancingan umum. Setiap pemancing dikenai biaya Rp50.000 untuk memancing sepuasnya.

Festival tersebut rupanya mampu menyedot perhatian penduduk sekitar. Meskipun terik matahari sangat menyengat, warga tetap setia menonton. Mereka juga mengajak anak serta cucunya. Tak sedikit yang berjalan kaki dari rumah.

Kerumunan itu pun dimanfaatkan banyak pedagang untuk menggelar lapak. Kebanyakan mereka menjual minuman. Namun, ada pula yang berjualan makanan.

Salah satu warga Mengger, Wahyu mengaku senang dengan festival tersebut. Ia merasa mendapat banyak hiburan.

"Selain itu melalui festival semacam ini, kesenian tradisional seperti reog dan jathilan tidak akan luntur. Telaga Tongtong juga akan semakin terkenal melalui kegiatan ini," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

News
| Sabtu, 04 April 2026, 15:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement