Ratusan Penari akan Unjuk Gigi di Jalan Mangkubumi Hingga Malioboro

18 September 2013 17:23 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_448816" align="alignleft" width="449"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/18/ratusan-penari-akan-unjuk-gigi-di-jalan-mangkubumi-hingga-malioboro-448814/menari-jalan-antara" rel="attachment wp-att-448816">http://images.harianjogja.com/2013/09/menari-jalan-antara.jpg" alt="" width="449" height="300" /> Ilustrasi menari di jalan Malioboro (JIBI/Harian Jogja/Antara)[/caption]

Harianjogja.com, JOGJA—Pergelaran tari Jogja International Street Performance (JISP) kembali digelar. Even yang dilangsungkan pada 21-22 September 2013 ini, para penari dituntut untuk ”jembut bola” dengan tampil langsung di ruang publik menghibur masyarakat.

"Jika selama ini kebanyakan seniman mengundang penonton saat tampil. Maka JISP ini kami mengubah paradigma itu, para penari akan tampil langsung di jalan memberikan tontonan kepada masyarakat," ucap Bambang Paningron, Direktur dan penggagas JISP, Selasa (17/9/2013) saat menggelar jumpa pers di kantor Dinas Pariwisata.

Even yang sudah keempat kalinya ini, diikuti sebanyak 25 grup taru kontemporer, tradisi dan pop. Grup tari berasal dari Jogja maupun beberapa kota di Indonesia. Bahkan grup tari asal mancanegara pun juga turut ambil bagian seperti dari Korea, Jepang, Hongkong, Spanyol, Singapura, India, Iran, Taipei dan Cina.

Para penari, kata Bambang akan tampil di sekitar tugu Jogja hingga titik nol mulai pukul 15.30 WIB hingga 19.00 WIB, atau dari Jl Mangkubumi menuju Jl. Malioboro. "Tiap grup memilih tempat yang berbeda. Ada yang tampil di depan Gedung Agung, ada juga yang di tugu Jogja. Intinya sepanjang jalan [Mangkubumi-Malioboro] akan ramai nantinya digunakan untuk pertunjukan," jelasnya.

Bambang menuturkan dengan konsep itu, diharapkan masyarakat dapat mudah mengakses pertunjukan tari. Sekaligus menjadi suatu upaya untuk mendekatkan tari dengan masyarakat yang selama ini tidak memiliki kesempatan untuk melihat langsung pentas seni di gedung pertunjukan.

Dijelaskan Bambang, langkah panitia JISP untuk menggunakan ruang publik sebagai tempat pentas karena Jogja memiliki banyak penari. Hanya, dari banyaknya penari itu tidak banyak ruang pertunjukan yang bisa mengakomodasi penari saat menggelar pertunjukan. Maka dari itu, dalam JISP 2013 ini menghadirkan ruang publik sebagai tempat pentas. "Karena pada dasarnya pentas itu bisa di mana saja tanpa harus di gedung pertunjukan termasuk di ruang publik," terangnya.