Waspada, Persoalan Sepele Bisa Picu KDRT

25 September 2013 18:03 WIB Ujang Hasanudin Gunungkidul Share :

[caption id="attachment_412133" align="alignleft" width="291"]http://images.harianjogja.com/2013/06/ilustrasi-percobaan-perkosaan.jpg">Foto ilustrasi KDRT. (JIBI/Harian Jogja/Dok) http://images.harianjogja.com/2013/06/ilustrasi-percobaan-perkosaan.jpg" width="291" height="173" /> Foto ilustrasi KDRT. (JIBI/Harian Jogja/Dok)[/caption]

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Persoalan ekonomi bukan menjadi penyebab tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Justru hal-hal sepele yang memicu terjadinya KDRT.

Koordinator Divisi Pendampingan lembaga perempuan Rifka Annisa, Rina Widasrsih mengatakan, kasus kekerasan di Kabupaten Gunungkidul 2012 lalu ada 17 kasus, tujuh kasus di antaranya adalah KDRT.

Menurut Rina, sebagian besar kasus KDRT dipicu persoalan sepele seperti istri melihat telepon selular suami, istri melihat suami berboncengan dengan perempuan lain serta komunikasi antara suami istri yang tidak nyambung.

“Hal-hal sepele yang menyebabkan terjadinya kekerasan fisik,” kata dia, seusai seminar meningkatkan partisipasi laki-laki dalam keehatan ibu dan anak di Wonosari, Gunungkidul Rabu (25/9/2013).

Persoalan ekonomi, kata Rina bukanlah penyebab KDRT. Sebab, menurutnya banyak orang yang ekonominya mapan namun KDRT tetap terjadi. Sebaliknya banyak yang ekonominya kurang namun tetap harmonis.

“Faktor ekonomi hanyalah bagian dari yang memperburuk situasi kerentanan terjadinya kekerasan,” ucap Rina.

Rina menambahkan, persoalan KDRT juga tidak lepas dari akar maskulinitas yang berkembang di masyarakat. Laki-laki dibesarkan dalam pengasuhan posisi tertentu dan perempuan dibesarkan pada sisi tertentu.

Perempuan secara ekonomi tidak ada tuntutan namun laki-laki dituntut untuk bertanggungjawab dan matang secara ekonomi.