Petani Tembakau Lereng Merapi Merugi Jutaan Rupiah

29 Oktober 2013 07:17 WIB Sleman Share :

Harianjogja.com, NGAGLIK- Petani tembakau di Kabupaten Sleman merugi jutaan rupiah karena cuaca yang tidak menentu. Hasil panen tembakau berkualitas buruk karena kandungan air masih tinggi.

Salah satu petani tembakau asal Ngaglik, Rubiyo mengatakan panenan kali ini kurang maksimal. Bahkan banyak daun tembakau yang membusuk awal karena kandungan air dalam tanah masih banyak.

“Yang jelas kami rugi hampir Rp10 juta untuk panen tembakau satu petak sawah saja [Sekitar 1.000 meter persegi]. Untungnya kami tidak seluruhnya menanam tembakau, karena sebagian kami selingi dengan ketela,” kata Rubiyo di Dusun Sedan, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Senin (28/10/2013).

Rubiyo menambahkan, cuaca kemarau basah tahun ini membuat tanaman tembakau rentan pada penyakit. Banyak penyakit yang muncul karena cuaca kemarau basah kali ini. Terlebih pada dua bulan terakhir sinar matahari tidak terik dengan maksimal.

“Pada tahun ini nyaris tidak ada panen daun tembakau sama sekali. Jikapun ada, hasil daunnya kecil-kecil dan kurang maksimal jika di jual,” kata Rubiyo yang mengaku harga jual saat ini sangat murah hanya Rp50.000 untuk satu kilogram tembakau kering.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Sleman, Suwarji mengatakan memang petani tembakau saat ini nyaris tidak panen. Belum lagi harga daun tembakau turun drastis bukan hanya karena kualitas buruk.

“Tahun ini virus pemakan batang tembakau kembali datang. Ini belum ada obatnya dan mengatasinya harus rutin didatangi dan dipotong bagian dahan yang terkena virus agar tidak menyebar. Namun sejauh ini rupanya tetap panenan kurang maksimal,” kata Suwarji.