Populasi Monyet Gunungkidul Tembus 1.000 Ekor, DLH Kaji Opsi Vasektomi
Pemkab Gunungkidul mengkaji opsi vasektomi monyet pejantan untuk mengendalikan populasi lebih dari 1.000 ekor dan mengurangi konflik dengan petani serta warga.
Wisatawan sedang bermain air di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul. - Harian Jogja/ist
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Menjelang momentum libur Lebaran, para pelaku usaha di destinasi wisata Gunungkidul diimbau untuk menjaga keramahan dan profesionalitas pelayanan.
Anggota Komisi B DPRD Gunungkidul, Ery Agustin Sudiyanti, menekankan pentingnya menjaga citra positif pariwisata agar para pelancong tidak merasa kapok untuk kembali berkunjung ke Bumi Handayani.
Ery menyoroti praktik "nuthuk" atau menaikkan harga secara tidak wajar yang sering kali menjadi momok bagi wisatawan saat musim liburan. Menurutnya, keuntungan besar memang menjadi target, namun hal tersebut tidak boleh mengorbankan kepercayaan pengunjung yang berdampak buruk pada ekosistem pariwisata jangka panjang.
“Contoh agar citra pariwisata tetap baik adalah dengan mematok harga yang wajar alias tidak nuthuk ke pengunjung yang datang,” kata Ery, Selasa (17/3/2026).
Ia menyarankan agar setiap pelaku usaha wajib menyediakan daftar harga yang transparan sebelum transaksi dilakukan guna menghindari adanya kesan penipuan terhadap wisatawan.
Tren positif pariwisata Gunungkidul di awal tahun 2026 sebenarnya sudah terlihat dari capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor retribusi yang menyentuh angka hampir Rp10 miliar dalam dua bulan pertama.
Capaian ini dinilai harus dijaga dengan kualitas pelayanan yang prima. “Pariwisata erat kaitannya dengan citra yang baik, kalau selalu negative maka pengunjung enggan datang karena kapok,” ungkapnya.
Merespons hal tersebut, Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga Gunungkidul telah menerbitkan surat edaran resmi kepada seluruh pengelola destinasi.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Nanang Putranto, menjelaskan bahwa terdapat 13 poin imbauan dalam edaran tersebut, yang mencakup larangan tarif tidak wajar, pengaturan parkir, hingga komitmen menjaga kebersihan.
Pemerintah daerah mewajibkan pedagang di area wisata untuk memasang label harga secara terbuka agar ada kepastian bagi pengunjung.
“Tujuannya, agar pengunjung mendapatkan kenyamanan sehingga bisa lebih menikmati kunjungan karena ada kepastian saat melakukan transaksi di destinasi wisata,” kata Nanang.
Selain urusan harga, aspek keselamatan wisatawan tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan selama periode libur panjang.
Pemantauan di berbagai titik lokasi wisata terus dilakukan untuk memastikan standar Sapta Pesona tetap terjaga, sehingga pelaksanaan liburan dapat berlangsung aman, lancar, dan berkesan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengkaji opsi vasektomi monyet pejantan untuk mengendalikan populasi lebih dari 1.000 ekor dan mengurangi konflik dengan petani serta warga.
UMY mengembangkan lima prototipe AI untuk membantu deteksi limfoma, tumor otak, kanker payudara, penyakit jantung, dan stres.
BGN memberi tenggat hingga 10 Agustus 2026 bagi SPPG mengurus SLHS. Dapur tanpa sertifikat laik higiene dan sanitasi akan ditutup permanen.
Harga emas Antam naik Rp50.000 menjadi Rp2,679 juta per gram. Cabai rawit merah juga melonjak mendekati Rp60.000 per kilogram.
Next Generation Zero Down Time (ZDT) mentransformasi layanan purnajual dari pemeliharaan reaktif menjadi pencegahan proaktif untuk mendeteksi potensi kendala
Bulog memastikan stok beras premium di ritel modern tetap aman meski 40 merek beras fortifikasi terancam ditarik dari peredaran.