TPAS Wukirsari Terima 60 Ton Sampah per Hari, Organik Dominan
DLH Gunungkidul mencatat 70 persen sampah di TPAS Wukirsari masih berupa sampah organik. Warga didorong memilah sampah dari rumah.
Proses pencopotan bando selamat datang Wonosari yang terpasang di gapura batas di kota di Kalurahan Logandeng, Playen, Kamis (23/7). /Istimewa.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) resmi mencopot bando bertuliskan "Selamat Datang Wonosari" yang membentang di gapura perbatasan Kota Wonosari, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen. Pembongkaran dilakukan sebagai langkah antisipasi demi menjaga keselamatan pengguna jalan karena kondisi konstruksi dinilai sudah tidak layak.
Proses pembongkaran sebenarnya telah direncanakan sejak 2023, namun baru dapat direalisasikan pada tahun ini. Pembongkaran dilakukan pada Kamis (23/7/2026) malam agar tidak mengganggu arus lalu lintas di ruas jalan nasional tersebut.
Kepala Bidang Cipta Karya DPUPRKP Gunungkidul, Ashari Nurkalis, mengatakan bando tersebut telah berusia lebih dari satu dekade tanpa perawatan yang memadai sehingga berpotensi membahayakan masyarakat.
"Setelah sekian lama, akhirnya bando selamat datang yang terbuat dari besi ini sudah bisa dibongkar hari Kamis (23/7/2026). Pembongkaran dilaksanakan malam hari karena lalu lintas lebih longgar sehingga tidak mengganggu pengguna jalan," kata Ashari, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, keputusan pembongkaran dipercepat setelah adanya laporan dari Polsek Playen terkait salah satu huruf pada tulisan "Selamat" yang hampir terlepas dari rangka besi.
"Ada laporan dari Polsek Playen kalau huruf M dari tulisan Selamat yang berada di bando mau copot. Setelah dicek, memang benar sehingga langsung dilakukan pencopotan," ungkapnya.
Ashari menegaskan pencopotan dilakukan murni demi alasan keselamatan. Selama lebih dari 10 tahun berdiri, konstruksi besi tersebut tidak pernah mendapatkan perawatan sehingga dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan apabila tetap dipertahankan.
"Daripada berisiko dan membahayakan pengguna jalan, maka akhirnya dilepas," katanya.
Ia memastikan proses pembongkaran berlangsung lancar dan kini tidak ada lagi bando yang melintang di atas gapura batas Kota Wonosari di Kalurahan Logandeng.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPRKP Gunungkidul, Wadiyana, mengatakan pencopotan merupakan langkah preventif untuk mengurangi risiko kegagalan konstruksi.
"Tujuan mengurangi risiko ketidakhandalan bando yang terbuat dari besi ini. Jadi, dengan alasan keamanan maka akan dicopot," ujarnya.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tetap berencana menghadirkan kembali ikon pintu masuk Kota Wonosari. Namun, realisasi pembangunan bando baru masih menunggu ketersediaan anggaran daerah.
"Kami belum usulkan untuk pembangunan ulang, karena menunggu anggarannya tersedia," kata Wadiyana.
Dengan dicopotnya bando lama, DPUPRKP berharap keselamatan pengguna jalan tetap terjaga sembari menyiapkan konsep pembangunan ikon baru yang lebih aman, kuat, dan sesuai kemampuan anggaran pemerintah daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DLH Gunungkidul mencatat 70 persen sampah di TPAS Wukirsari masih berupa sampah organik. Warga didorong memilah sampah dari rumah.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 31 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Yogyakarta hingga Palur.
Pemkab Kulon Progo dan BBWS Serayu Opak mengeruk Sungai Serang untuk mitigasi banjir sekaligus memanfaatkan sedimen bagi infrastruktur Porda DIY 2027.
DPC PDIP Sleman menggelar sarasehan dan nobar film Kudatuli di Minggir sebagai pendidikan politik serta penguatan soliditas kader menuju Pemilu 2029.