Sebuah Sumur di Gunungkidul Keluarkan Bau Menyengat

(JIBI/Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah)
21 Februari 2014 07:13 WIB Kusnul Isti Qomah Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Warga Dusun Logandeng, Desa Logandeng mengaku resah dengan air sumur yang mengeluarkan bau menyengat.

Salah satu warga Sukartinah mengaku bau menyengat mulai tercium begitu sumurnya terkontaminasi abu vulkanik Jumat (14/2/2014) lalu. Padahal kondisi sumurnya tertutup ketika terjadi hujan abu. Warga mengira bau tersebut merupakan bau belerang.

“Kami terpaksa tidak menggunakan air sumur kami. Kami mengambil air dari tempat saudara yang tidak berbau,” tutur dia, Kamis (20/2/2014).

Ia mengaku warga tidak menggunakan air dari PDAM karena memiliki sumur sendiri.

Warga lain Isyanti juga mengeluhkan hal yang sama. Namun ia sudah mengambil langkah praktis dengan menaburkan gamping ke dalam sumur. Warga terbiasa untuk menaburkan gamping ketika sumur mereka mengeluarkan bau yang tidak sedap.

“Kalau dikasih gamping, air jadi jernih dan tidak berbau. Kami tetap pakai air dari sumur untuk keperluan sehari-hari,” tutur dia.

Dari pengamatan Harianjogja.com, air dalam sumur warga berwarna keruh. Untuk air yang belum ditaburi gamping memang mengeluarkan bau yang menyengat.

Pengamat Ekosistem Karst Edi Dwi Atmaja menuturkan bau menyengat dari sumur kemungkinan besar karena abu terkontaminasi vulkanik. Bau menyengat tersebut bisa saja bau belerang.

“Namun, kemungkinan tidak hanya bau belerang tapi bau senyawa logam atau senyawa lainnya. Untuk memastikan hal tersebut jelas memerlukan penelitian lebih lanjut,” papar dia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan air yang layak konsumsi harus memenuhi tiga syarat yakni tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.

"Ketika salah satu atau semua syarat tersebut dilanggar, sebaiknya air tersebut tidak dikonsumsi," katanya.