Hama Tikus Jadi Momok, Petani Kulonprogo Putar Otak

25 Februari 2014 20:40 WIB David Kurniawan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Serangan hama tikus masih menjadi momok bagi petani di Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang. Pasalnya, tak hanya tanaman padi yang dirusak tapi benih yang baru ditabur petani tak luput dari incaran binatang pengerat tersebut.

Malahan, beberapa warga mengaku harus keluar uang ekstra untuk membeli benih. Penyebannya, saat membuat benih, dan benih-benih itu belum sampai tumbuh sudah dirusak tikus. Akibatnya, warga ada yang sampai tiga kali membuat benih, sebelum masa penanaman tiba.

“Yah hasilnya lumayan bagus, meski panennya tidak bisa maksimal seperti musim panen sebelumnya,” aku Kadirin, salah seorang petani dari Dukuh Piton, Banjarasri, Kalibawang kepada Harianjogja.com, Selasa (25/2).

Untuk mengakali musim tanam kali ini, Kadirin dengan beberapa petani lainnya berjaga-jaga saban malam agar benih-benih itu tidak diserang tikus. Biasanya, penjagaan itu dimulai dari pukul 19.00 hingga tengah malam, namun kalau tidak ada kawan yang menemani, Kadirin hanya berjaga hingga
pukul 22.00 WIB.

“Setiap malalm minimal melihat-lihat sekali, namun terkadang sampai dua kali guna memastikan benih-benih tidak dimakan tikus. Tinggal disorot kalau ada akan dibunuh, anehnya tikus-tikus itu tidak takut saat disorot dengan
lampu,” paparnya.

Diakuinya, memulai masa tanam baru, saat ini baru membuat benih padi sekali, tapi di musim tanam sebelumnya, gara-gara serangan tikus harus membuat benih sampai tiga kali. Padahal, untuk sekali pembuatan dibutuhkan dua kresek gabah dengan ukuran lima kilogram dibutuhkan biaya Rp100.000.

“Ya tinggal kalikan tiga, maka itu yang dikeluarkan untuk membuat benih. Namun, saat musim panen serangan tikus tidak se-ekstrem di daerah lain, sehingga pengeluaran itu bisa ditutupi dengan hasil panen,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan, Parjo, petani asal Dukuh Kisih, Banjarasri, Kalibawang. Akibat serangan tikus, hasil panennya berkurang. Biasanya mampu memperoleh tujuh kuintal gabah, namun di musim panen ini hanya mendapatkan lima
kuintal saja.

“Ya masih bagus, tapi kami harus memutar otak agar tikus tidak merusak tanaman padi milik saya,” katanya.