Advertisement
Kisah Kelayan yang Dipulangkan ke Keluarga, Hal Pertama adalah Minta Maaf
Advertisement
Kelayan adalah sebutan bagi orang-orang yang mengalami masalah kehidupan dan kesejahteraan. Tercatat ada 43 orang kelayan yang sempat terjaring razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Kepolisian, Mereka kemudian dirawat di UPT Panti Karya. Rabu (18/6/2014), mereka dipulangkan ke daerah asalnya oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Jogja. Apa yang mereka rasakan tentang pulang dan kembali ke pelukan keluarga? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Uli Febriarni.
"Hal pertama yang akan saya lakukan adalah minta maaf sama ortu [orangtua] karena sudah pergi tanpa memberi kabar," ujar Santiyah, 21, di halaman Balaikota, Selasa (17/6/2014).
Advertisement
Matanya berbinar, ketika Harian Jogja menanyakan perasaannya karena akan dipulangkan. Pagi itu, ia berkumpul bersama kelayan yang lainnya dalam Orientasi Mobilisasi Kelayan dan Pamitan Pemulangan Kelayan ke Daerah Asal.
Ia mengaku sangat ingin cepat-cepat pulang. Kerinduannya pada Maryono, sang ayah, dan Nuryanti, ibunda, terasa begitu meluap. Empat tahun hidup sebagai pengamen di jalanan, bersama sang kekasih, Didit. Serta seorang putranya bernama Timoti Setyomulyo yang kini berusia 2 bulan. "Saya menyerahkan diri ke polisi waktu itu, lalu saya dibawa ke Panti Karya," kisahnya mengalir.
Tak hanya menjadi pengamen, mencari rosokan, juga ia jalani bersama Didit yang juga bekerja serabutan. Santiyah akan dipulangkan ke daerah Kelapa Genep, Cikalong, Tasikmalaya. Begitu juga dengan beberapa kelayan lainnya. Yang berasal dari Palembang, Ambarawa, Gunungkidul. Pun kelayan dari dalam Kota Jogja, seperti Dipowinatan dan Pajeksan.
Di sana, mereka akan dipertemukan kembali dengan sanak famili.
Kalau Santiyah berbinar, Pegawati, salah seorang kelayan harus menahan perasaan.
Di Jogja, ia tinggal sendirian sehingga pada akhirnya ia kembali ke Panti Karya. "Sudah gak ada keluarga di sini. Di panti saja, diajari mandiri," kata Pegawati, yang berusia sekitar 55 tahun. Namun, saat ditanya, ia menjawab bahwa usianya 17 tahun. Ya, psikotik menderanya.
Dari 43 kelayan/gelandangan ini, 80% di antaranya mengidap psikotik, 2 orang down syndrom, dan satu orang dengan HIV AIDS (ODHA).
"Kasihan, padahal mereka juga manusia, mereka paham kok apa itu kasih sayang. Tapi banyak keluarga yang sulit menerima mereka, alasannya malu, atau sibuk mengurusnya," tutur Wijanarti, koordinator perawat UPT Panti Karya.
Wijanarti berharap, setelah para kelayan ini dipulangkan, mereka bisa dirawat dengan baik oleh keluarga mereka. Karena, menurut pengetahuan Wijanarti, meski para kelayan dengan psikotik ini telah dinyatakan 50% sembuh oleh dokter yang menangani, keluarga masih sering malu menerima mereka.
"Ada soalnya yang sampai tiga kali bolak-balik ke panti, sudah dipulangkan, tapi ia menggelandang lagi. Saat kembali, kondisi mereka harus dirawat dari nol lagi. Namanya gangguan jiwa memang ada perawatan khusus. Kalau ada obat, kami juga beri tahu keluarga mengenai dosis dan waktu pemberian obat. Tapi, selalu saja ada keluarga yang menolak mereka. Kami bersyukur kepada keluarga yang mau menerima mereka lagi, dan merawat mereka penuh kasih," lanjut Wijanarti.
"Walau mayoritas mereka psikotik, setelah perawatan di panti, kini kondisi mereka lebih baik. Tahu nama, bisa menyanyi, membaca puisi. Tak semua dari mereka miskin juga, ada satu, dari Bantul dia sebenarnya kaya, tapi karena tidak punya suami dan anak, akhirnya menggelandang," tambah Waryono, kepala UPT Panti Karya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Tiba, Prabowo Dijadwalkan Melayat
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




