Advertisement
KERAWANAN SOSIAL DI SLEMAN : Pendatang Diminta Berbaur dengan Warga Setempat
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Kecamatan Depok, Ngaglik, dan Mlati merupakan wilayah di Sleman yang memiliki jumlah pendatang terbanyak.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sleman per 30 Juni 2014, jumlah penduduk di Sleman mencapai 1.062.801 jiwa.
Advertisement
Setiap bulan, pendatang di Sleman rata-rata mencapai 900 orang, sehingga dalam satu tahun setidaknya ada 10.800 orang pendatang.
Dari 17 kecamatan yang ada, Kecamatan Depok, Ngaglik, dan Mlati merupakan tiga wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi. “Jumlah pendatang terbanyak juga di Depok, Ngaglik, Mlati,” kata Kepala Disdukcapil Sleman, Supardi, saat dikonfirmasi, Minggu (16/11/2014).
Ditemui terpisah, Camat Depok, Budiharjo mengungkapkan, pendatang didominasi kalangan mahasiswa dan pelajar. “Pekerja juga ada, tapi yang paling banyak tetap mahasiswa. Kami tidak bisa berikan jumlah pastinya karena tidak semua mengurus SKTS [Surat Keterangan Tinggal Sementara],” papar Budi, Jumat (14/11).
Terkait dengan heterogenitas warga, Budi berusaha mengoptimalkan kerukunan dan kebersamaan warga domisili dan pendatang melalui Forum Pembauran Bangsa Kecamatan Depok.
“Kami ingin ada wadah untuk pembauran antarwarga dengan latar belakang suku, agama, bahasa, dan status sosial yang berbeda,” ungkapnya.
Budi menambahkan, pihaknya juga memfasilitasi pertemuan antar komunitas pendatang, baik melalui forum silaturahmi warga maupun dengan kegiatan khusus yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. “Misalnya kemarin dengan kemasan Festival Sabang-Merauke,” imbuhnya kemudian.
Meski demikian, Budi mengakui masih terjadi kejadian keributan dan permasalahan yang di luar prediksi. “Kadang hal sepelesaja bisa jadi alasan. Mungkin karena rasa solidaritas tinggi. Belum lagi kalau ada masalah di sana dibawa ke sini,” kata Budi.
Budi pun tidak menyangkal kalau ada sebagian warga yang belum bisa terbuka menerima pendatang. Sebab, warga khawatir akan terjadi masalah atau keributan.
“Sudah kita sampaikan pada tokoh masyarakat agar senantiasa menjaga ketentraman dan ketertiban. Kalau ada sesuatu, harus dikoordinasikan. Jangan sampai kekhawatiran itu jadi lebih besar,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- Jumat Agung, Tablo Salib di Gereja Pugeran Jogja Dihidupkan Anak Muda
- Kunjungi Museum Andi Bayou, DPRD DIY Susun Regulasi Baru
- Angin Kencang Terjang Sleman, Pohon Tumbang Timpa Mobil dan Rumah
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
Advertisement
Advertisement





