MITIGASI BENCANA : Berisik, Warga Tolak EWS

Ilustrasi tanah longsor (JIBI/Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah)
12 Januari 2015 11:40 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Mitigasi bencana berupa EWS ditolak warga lantaran menimbulkan getaran dan berbunyi. Adapun di musim hujan, 15 desa di Bantul rawan longsor.

Harianjogja.com, BANTUL- Alat sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk tanah longsor di Bantul ditolak warga lantaran dianggap mengganggu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul Dwi Daryanto menyatakan, EWS tersebut sebelumnya sempat dipasang di Desa Wonolelo, Kec. Pleret Bantul. Alat itu merupakan pilot project yang dilakukan Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY).

"Padahal itu satu-satunya EWS yang pernah dimiliki Bantul," kata dia.

Alat tersebut dipasang di lokasi rawan longsor dan sangat sensitif terhadap getaran tanah. Bila ada getaran sedikit saja maka alarm pada alat tersebut akan berbunyi. Hal itulah yang mengganggu kenyamanan warga. Pernah suatu kali, ada anjing yang beraktivitas di dekat lokasi rawan longsor, sehingga menimbulkan getaran dan alat tersebut berbunyi.

"Karena dianggap mengganggu kenyamanan warga jadi alatnya sekarang tidak difungsikan lagi," ujarnya.

Padahal kata Dwi, bencana longsor sampai sekarang masih mengancam Bantul terutama saat musim hujan. Saat ini tercatat 15 desa rawan longsor di Bantul, jumlah itu meningkat dibanding 2012, yang hanya tercatat 12 titik longsor. Zona merah rawan longsor itu sangat dipengaruhi curah hujan, vegetasi tanaman, penggunaan lahan dengan cara yang tidak tepat, kontur tanah dan sejumlah faktor lainnya.

Kepala Bagian Humas Pemkab Bantul Heni Purwanto sebelumnya meminta warga mewaspadai sejumlah bencana saat musim hujan yang puncaknya diprediksi jatuh pada Januari ini.

"Ada banyak potensi bencana di Bantul seperti tanah longsor, angin kencang dan pohon tumbang," terang Heni.