JJLS GUNUNGKIDUL : Warga Tunggu Kepastian Pekan Ini

Titik tengah ruas JJLS di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang. (JIBI/Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah)
26 Januari 2015 09:40 WIB Kusnul Isti Qomah Gunungkidul Share :

JJLS Gunungkidul, wraga Girisekar harap-harap cemas menunggu kepastian pembangunan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Warga Desa Girisekar, Kecamatan Panggang menanti kepastian soal pembanguan Jalur Jalan Lingkar Selatan (JJLS). Rencananya, mereka akan dikumpulkan di Balaidesa Girisekar pada Rabu (28/1/2015).

Salah satu warga Suwarno mengatakan, pematokan lahan oleh petugas dari DPU DIY sudah dilakukan, Kamis (22/1/2015). Menurutnya, sampai pematokan kemarin, warga tidak mengetahui di mana titik tengah jalan.

“Awalnya, kami mendapatkan kabar kalau lebarnya 30 meter padahal lainnya 24 meter. Tapi, setelah saya melihat pematokan, lebarnya juga 24 meter,” ungkap dia kepada Harianjogja.com di Girisekar, Kecamatan Panggang, Kamis (22/1/2015).

Suwarno menambahkan warga diminta untuk berkumpul di Balaidesa Girisekar pada Rabu (28/1/2015) mendatang. Kabarnya, warga akan mendapatkan penjelasan mengenai pembangunan JJLS. Namun, ia mengaku tidak mengetahui apa yang akan dibahas.

“Sampai saat ini, kami tidak mendapatkan kejelasan soal berapa ganti rugi pembangunan JJLS,” ungkap dia.

Hal senada diungkapkan Wardi Utomo, warga Dusun Bali, Desa Girisekar. Ia mengatakan, sampai saat ini belum mendapatkan kepastian mengenai ganti rugi. Wardi menjelaskan, dari September warga belum juga mendapatkan kejelasan meskipun mengikuti sosialisasi.

“Dalam setiap sosialisasi, tidak ada kejelasan. Sampai saat ini kami sudah ikut tiga kali sosialisasi,” ungkap dia.

Sosialisasi ketiga yang diikuti, lanjut dia, yakni pada 14 Januari di Balaidesa Girimulyo, Kecamatan Panggang. Ketika hendak mengikuti sosialisasi, warga pun merasa aneh karena lokasi sosialisasi harus di desa sebelah.

“Padahal, kami kan warga Girisekar. Harusnya digelar di Girisekar saja seperti biasanya,” ungkap dia.

Dalam sosialisasi tersebut, warga kembali tidak mendapatkan kejelasan. Menurut Wardi, ada kesan saling lempar dari pejabat yang datang mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan DIY. Dalam pertemuan itu, warga kembali tidak mendapatkan penjelasan apa pun.

“Katanya, inti pertemuan itu untuk kulonuwun. Kalau kami, sudah pernah di-kulonuwun-i. Selain itu, tidak membahas apa-apa,” ungkap dia.

Kepala Dusun Bali Sutrisno mengungkapkan, dalam pertemuan itu, warga juga tidak mendapatkan kesempatan bertanya. “Pertemuannya singkat. Kami jauh-jauh datang tapi tidak mendapatkan kejelasan apa pun,” ungkap dia.