PEMKAB BANTUL : Tak Ada Warga Bantul Hijrah ikut ISIS

11 Maret 2015 07:20 WIB Bantul Share :

Pemkab Bantul memastikan tak ada warganya yang bergabung dengan ISIS.

Harianjogja.com, BANTUL - Pemkab Bantul memastikan tidak ada warganya yang mutasi penduduk ke sejumlah negara yang selama ini menjadi pusat kekuatan Negara Islam Irak dan Suriah atau Islamic State Of Irak and Syria (ISIS) seperti halnya 16 warga Indonesia lain diduga telah bergabung.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Bantul, Fenti Yusdayati, mengatakan tiga bulan terakhir tidak ada warga Bantul yang pindah kewarganegaraan luar Indonesia.

"Dapat kita pastikan dari bulan Januari sampai hari ini tidak ada warga Bantul yang mutasi keluar negeri seperti ke Turki, Suriah, atau Irak," katanya ditemui Harianjogja.com, Senin (9/3/2015).

Selama ini untuk pindah warga penduduk dari daerah satu ke daerah lain di dalam negeri wajib mengurus administrasi kependudukan ke Disdukcapil.

"Bahkan kalau pindah kewarganegaraan sekalipun pasti terpantau. Tapi tidak bulan ini tidak kami temukan," ujarnya.

Namun demikian, untuk kepergian warga Bantul ke sejumlah negara lain tidak bisa terpantau karena berkaitan dengan persyaratan paspor dan visa yang tidak terkait dengan Disdukcapil. Menurutnya, untuk visa atau paspor selama ini menjadi kewenangan penuh kantor imigrasi.

Fenti menambahkan pasca pemberitaan hangat seputar 16 warga negara Indonesia (WNI) ke Turku diduga bergabung ISIS tidak ada ketentuan khusus memperketat perpindahan kewarganegaraan. Warga tetap mendapat pelayanan seperti biasa. Jika memang persyaratan diwajibkan untuk pindah negara sudah terpenuhui akan langsung diproses.

"Tapi untuk Bantul belum kita jumpai. Kalau ilegal kita juga tidak tahu. Mustinya tetap akan terendus pihak kantor imigran," tandas Fenti.

Wakil Ketua DPRD Bantul Nur Subiyantoro menambahkan perlu adanya upaya sedini mungkin oleh pemerintah terkait mewujudkan satu pemahaman soal aliran ISIS yang memang menjadi ancaman dunia termasuk Indonesia .

"Kami harap ada langkah-langkah yang harus diambil pemerintah supaya warga Bantul tidak tergiur turut bergabung ISIS," ujar politisi asal Gerindra dihubungi terpisah.

Nur Subiyantoro mengingatkan ancaman ISIS bagi Indonesia harus diambil antisipasi dini. Rekruitmen biasa dilakukan dengan sasaran masyarakat yang kurang memiliki rasa nasionalisme, tingkat ekonomi rendah dan gagal memahami kerukunan dan kebersamaan.

"Perlu ditumbuhkan nasionalisme dan pluralitas dalam diri pemuda agar tidak terjebak pada gerakan-gerakan yang tidak sesuai ajaran Pancasila," pungas Nur Subiyantoro.