Advertisement
KEMISKINAN DIY : Bantuan Dana Tak Atasi Masalah, Lalu?
Advertisement
Kemiskinan DIY dinilai tak dapat diatasi dengan sekadar memberikan bantuan uang senilai Rp1 juta per kepala keluarga.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Progam Pemerintah Daerah DIY lewat Bantuan Keuangan Khusus senilai Rp1 juta per kepala keluarga tak bakal mengatasi masalah kemiskinan di Gunungkidul.
Advertisement
Target pengentasan kemiskinan setiap tahun sebesar 2% juga sulit tercapai karena intensif Rp1 juta untuk usaha tergolong kecil. Apalagi, setiap tahunnya besaran BKK selalu berkurang. Paling banter, BKK bisa membantu pengentasan kemiskinan 1%.
Kepala Bindang Pemerintahan Sosial dan Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka mengatakan untuk tahun ini Pemkab mendapatkan gelontoran program BKK dari Pemda DIY sebesar Rp6,922 miliar. Rencananya bantuan tersebut akan diberikan kepada 6.922 kepala keluarga.
“Bantuan ini telah memasuki tahun ketiga. Uang Rp1 juta kalau digunakan untuk usaha jelas tidak cukup dan kurang. Kalau untuk konsumsi itu jelas menyalahi aturan,” tuturnya kepada wartawan, Selasa (7/4/2015).
Menurut Priyanta, masalah target penurunan tidak hanya dialami di Gunungkidul saja sebab di wilayah lain juga sama. Target penurunan 2% tidak bisa dipenuhi karena maksimal penurunan hanya 1%.
“Contohnya tahun lalu, secara akumulatif penurunan kemiskinan di DIY 0,8%. Untuk Gunungkidul angka penurunan mencapai 1%,” paparnya.
Selama ini mayoritas bantuan digunakan untuk pengembangan ternak kambing. Untuk tahun ini, pelaksanaan program tidak jauh beda. Namun, dari sisi persyaratan akan lebih dipermudah untuk menghindari kelompok yang terdiri dari beberapa desa.
Ketua Tim Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Gunungkidul Immawan Wahyudi tidak merisaukan posisi kemiskinan di Gunungkidul paling tinggi dibanding daerah lain di DIY.
Menurut dia, perubahan posisi tidak berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, penilaian yang dilakukan sangat bergantung pada tingkat daya beli masyarakat.
“Umumnya warga lebih mementingkan ketahan pangan ketimbang memikirkan untuk membeli suatu barang. Ini berpengaruh terhadap masih tingginya kemiskinan,” kata Immawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penerbangan Singapore Airlines ke Dubai Masih Dibatalkan, Ini Sebabnya
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- WFH Jumat untuk ASN Sleman Mulai Digodok, Layanan Publik Tetap Jalan
- Jumat Agung, Tablo Salib di Gereja Pugeran Jogja Dihidupkan Anak Muda
- Kunjungi Museum Andi Bayou, DPRD DIY Susun Regulasi Baru
- Angin Kencang Terjang Sleman, Pohon Tumbang Timpa Mobil dan Rumah
Advertisement
Advertisement




