TRADISI KULONPROGO : Kirab Taruban Disambut Ribuan Warga

Prajurit Kertoyudan mengiringi kirab merti dusun yang digelar warga Dusun Taruban, Desa Tuksono, Sentolo, Minggu (10/5). (JIBI/Harian Jogja - Holy Kartika N.S.)
12 Mei 2015 09:40 WIB Kulonprogo Share :

Tradisi Kulonprogo berupa Kirab Taruban menarik perhatian masyarakat.

Harianjogja.com, KULONPROGO - Barisan prajurit Kertoyudan dan prajurit Ringgojayan mengiringi kirab budaya merti desa di Dusun Taruban, Desa Tuksono, Sentolo. Ribuan warga tumpah ruah menyambut arak-arakan gunungan dan sebuah ogoh-ogoh raksasa, Minggu (10/5/2015).

Upacara adat ini merupakan ungkapan rasa syukur warga atas melimpahnya hasil panen. Maka tak heran, jika tradisi ini digelar usai panen raya pada musim hujan pertama. Warga pun antusias menyambut acara tersebut dengan penuh suka cita.

Salah satu pemangku adat setempat, Zainuri mengungkapkan, acara merti desa itu merupakan kegiatan rutin yang digelar warga Dusun Taruban setiap tahunnya. Dia mengatakan, tidak hanya kirab budaya, di malam sebelumnya, warga juga menggelar doa bersama. Pertunjukan seni tarian tayub juga digelar menghibur warga semalam suntuk di rumah kepala dukuh setempat.

"Acara ini kami lakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas kenikmatan yang telah diberikan. Kami juga memohon kepada Allah, agar seluruh warga diberikan kesehatan dan kesejahteraan," ujar Zainuri.

Kirab membawa serta gunungan yang berisi berbagai hasil bumi. Acara tersebut setidaknya dimeriahkan sekitar 22 kelompok seni. Di mana iring-iringan terdiri dari prajurit rakyat, hingga para pemain jathilan reog, pemain rebana dan para penari lainnya.

Kirab keliling kampung itu kemudian menuju ke sebuah sendang dan petilasan Jaka Tarub. Beberapa warga membawa air dari sendang, lalu dilanjutkan doa di makam petilasan tersebut. Acara ritual pengambilan air atau luaran itu, adalah acara yang sudah turun temurun dilakukan.

"Bahkan, warga. Dari berbagai daerah percaya, sendang ini adalah tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa dan memohon sesuatu. Jika terkabul, mereka harus melakukan ritual ngluari ujar atau syukuran," papar Zainuri.

Wasiyem, 55, salah satu warga setempat mengaku, ritual adat ini adalah ungkapan syukur. Dia mengatakan, hasil panen kali ini berhasil dengan baik. Hasil panen pun melimpah, sehingga ungkapan syukur kepada Tuhan harus dilakukan.

"Ini suka cita kami karena panen berhasil. Acara ini juga sebagai bentuk nguri-uri kabudayan, tujuannya, agar generasi muda juga bisa mengenal budayanya," imbuh Wasiyem.