EKONOMI KREATIF : Ibu Rumah Tangga Ingin Bekerja, Mungkin Ini Bisa Dicoba

Sejumlah ibu-ibu rumah tangga mendapat pelatihan membatik tulis di SMP Perintis, Wirobrajan. Mereka diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif di Jogja. (JIBI/Harian Jogja - Abdul Hamied Razak)
17 Mei 2015 00:15 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Ekonomi kreatif dapat digerakan siapapun, termasuk kalangan ibu rumah tangga.

Harianjogja.com, JOGJA-Para perajin batik saat ini sedang menikmati masa keemasan ekonomi kreatif. Dulu, banyak perajin yang kolaps lantaran kurang bisa bersaing. Sekarang, kondisi perajin batik mulai bergairah. Getok tular seperti pelatihan membatik pun digalakkan untuk melahirkan pebatik baru dan meningkatkan roda ekonomi rakyat.

Pengajar Batik di SMK N 3 Kasihan Bantul, Bambang Wasitonyoto mengatakan, potensi ibu-ibu rumah tangga (IRT) perlu digerakkan untuk mendukung ekonomi kreatif yang sedang masuk masa keemasan. Mereka secara ekonomi perlu dilatih untuk terus produktif. Pelatihan membatik, misalnya, tidak hanya menjaga kearifan lokal tetapi juga menjadi roda penggerak ekonomi warga.

"Setelah dilatih, saya ingin mereka juga menularkan pengetahuannya dalam kegiatan produktif," ujarnya saat memberi pelatihan membatik bagi Anggota Posyandu Lansia Wirosaban, di SMP Perintis Jogja, Minggu (10/5/2015).

Anggota Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad itu mengatakan, tingginya animo masyarakat untuk membeli batik dan kehadiran para perajin batik pemula, menyebabkan industri ini kembali bergairah. Banyak perajin batik yang bermunculan. Bahkan, motif-motif yang ditampilkan saat ini semakin beragam. Saat ini, lanjutnya, produsen batik berlomba-lomba mengambil hati konsumennya dengan mengangkat pewarnaan alam sebagai salah satu kekuatan produknya.

"Batik Sogan Jogja, misalnya, mempunyai corak khas klasik dengan warna alamiah didominasi coklat," ujar Bambang.

Diakuinya, para perajin lokal notabanenya hanya memiliki modal sedikit untuk memproduksi batik tulis. Mereka, lanjutnya, tidak akan mampu bersaing dengan produsen pabrikan yang memiliki sumber kapital besar. Meski begitu, kata Bambang, para perajin batik tulis Jogja tetap bertahan dengan membuat karya-karya eksklusif dan ciri khas tertentu.

"Kalau bersaing dengan kapital besar, (perajin) kalah. Tetapi, berkat kreativitas mereka dengan menyasar pangsa pasar kelas menengah atas, perajin batik tulis bisa bertahan," tuturnya.

Selain kreativitas motif, kata Bambang, perajin batik tulis juga perlu memproduksi batik limited edition. Artinya, motif yang digunakan hanya untuk sekali pakai sehingga harga batik tulis yang ditawarkan minimal Rp500.000 hingga jutaan rupiah.

"Untuk menyiasati persaingan batik tulis dengan batik dari pabrikan, strategi yang harus dilakukan adalah membidik pangsa pasar yang jelas. Makanya, pangsa pasar batik tulis harus menengah atas. Konsekuensinya, produk yang ditawarkan harus benar-benar berkualitas," kata Bambang.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Anggota Komisi VI DPR RI Ambar Tjahyono. Menurutnya, batik sudah menjadi identitas bangsa dan dianggap lebih dari sekadar buah akal budi masyarakat Indonesia. Menurutnya, popularitas batik mampu menggerakkan perekonomian rakyat. Jogja, misalnya, selama ini menjadi kota pengembangan ekonomi kreatif bagi Indonesia. Hal itu memiliki dua manfaat sekaligus, baik sebagai leverage pertumbuhan ekonomi rakyat sekaligus penguatan identitas kultural bangsa.

"Kegiatan pelatihan ini dapat mengembangkan dan menumbuhkan ekonomi kreatif yang juga sejalan dengan arah pembangunan ekonomi kerakyatan. Dengan mengedepankan peran nyata koperasi dan UKM, kami akan terus memberikan pembinaan bagi ibu-ibu usai pelatihan ini,” jelas Pengurus Pusat Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) itu.

Dengan begitu, lanjut dia, pertumbuhan dan stabilitas ekonomi dapat dinikmati secara lebih merata oleh seluruh komponen masyarakat (inklusif growth). '

"Pengembangan ekonomi batik, sebagai salah satu dari 14 komponen ekonomi kreatif, seyogyanya perlu terus ditingkatkan, mengingat trend dan prospek pasar batik yang sangat menjanjikan," tutup Ambar.