BUTA AKSARA : Belum Tuntas, Ini Masalahnya

17 Mei 2015 02:15 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Buta aksara di Kulonprogo masih terganjal keterbatasan anggaran

Harianjogja.com, KULONPROGO-Hingga pertengahan Mei 2015, Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Kulonprogo mencatat masih ada 7.516 orang buta aksara. Peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terus ditingkatkan demi mengurangi angka tersebut.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Dindik Kulonprogo, Tutik Sriyani mengatakan, penuntasan buta aksara termasuk dalam prioritas peningkatan kualitas pendidikan.

“Kalau orang bebas dari buta aksara, mereka akan lebih mudah bersosialisasi dan diajarkan keterampilan lainnya. Diharapkan kesejahteraannya pun meningkat,” ucap Tutik, Kamis (14/5/2015).

Tutik memaparkan, buta aksara cenderung dialami masyarakat menengah ke bawah. Kebanyakan berada di wilayah Samigaluh, Kokap, Girimulyo, dan Lendah.

“Kami mendata siapa saja yang buta aksara lalu mengajak mereka belajar di PKBM. Rencananya, tahun ini kami merangkul 720 warga belajar,” ungkapnya.

Tutik menambahkan, kesadaran masyarakat untuk bebas dari jerat buta aksara juga semakin tinggi. Angka melek huruf pun terus meningkat. “Ada kenaikan minat mengikuti pembelajaran bebas buta aksara,” katanya.

Meski begitu, Tutik mengaku keterbatasan anggaran menjadi kendala terbesar yang dihadapi. Hal itu paling berimbas pada pemenuhan kebutuhan tutor keaksaraan. “Anggaran untuk tutor kecil sekali. Ini ada solusi alternatif dengan meminta bantuan Babinsa untuk jadi tutor suka rela,” ujar Tutik kemudian.

Kasie Pendidikan Masyarakat Dindik Kulonprogo, Rudiatin menambahkan, sebanyak 14 Babinsa direncanakan mengikuti bimbingan teknis mengenai program bebas buta aksara pada bulan ini. Selanjutnya, Babinsa akan mengajar di sejumlah PKBM pada Juli hingga Desember mendatang. “Kali ini yang unik adalah Babinsa mengajar tanpa digaji,” ungkap Rudiatin.

Program bebas buta aksara dilakukan secara bertahap. Namun, Rudiatin juga sepakat jika masyarakat sudah semakin menyadari pentingnya memiliki keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung. “Tahun anggaran ini, DIY akan mengentaskan 480 orang, sementara sasaran Pemkab Kulonprogo ada 280 orang,” jelasnya.

Menurut Rudiatin, program bebas buta aksara harus dilaksanakan berkelanjutan. Setelah dinyatakan lulus dan mendapat keterangan melek aksara, masyarakat disarankan melanjutkan pendidikan kesetaraan, setidaknya Paket A.

“Jika tidak dilanjutkan lagi, dia mungkin saja jadi tidak bisa membaca lagi setelah beberapa lama,” katanya.