KELANGKAAN GAS : Gas Langka karena Konsumen Menimbun?

Bisnis/RachmanPERKETAT PENYALURANPekerja menata tabung gas elpiji 3 kg di pangkalan elpiji Jalan Ahmad Yani Bandung, Jawa Barat, Jumat (3 - 1). Khawatir terjadi peralihan konsumen elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg akibat kenaikan elpiji 12 kg, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memperketat pengawasan perdagangan dan penyaluran elpiji 3 kg.
20 Mei 2015 12:21 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Kelangkaan gas di Bantul diduga karena karena konsumen menimbun sebagai cadangan

Harianjogja.com, BANTUL- Pemkab Bantul menduga penyebab kelangkaan gas elpiji 3 kg karena perilaku konsumen.

Hal itu diutarakan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Bantul Sulistyanta. Menurut Sulistyanta warga kesulitan mendapatkan gas melon karena perilaku sebagian konsumen yang kerap menyimpan banyak tabung gas di rumah sebagai stok.

Ia mengklaim telah menyurvei sejumlah konsumen rumah tangga dan usaha mikro ihwal perilaku tersebut. Gas yang dimiliki masing-masing konsumen berjumlah tiga hingga 15 tabung.

"Misalnya yang saya temui pedagang mie ayam, dia kebutuhan seharinya tiga, tapi punya enam tabung gas sebagai stok," ungkap Sulistyanta, Selasa (19/5/2015).

Alhasil kata dia, sebagian tabung gas justru dimonopoli segelintir konsumen. Sementara konsumen lainnya yang hanya menggunakan satu hingga dua tabung menjadi korban kelangkaan gas.

Perilaku menumpuk gas tersebut menurutnya juga dipicu faktor psikologis, yaitu kekhawatiran konsumen bila gas langka sehingga harus punya persediaan banyak.

"Konsumen cemas, tidak dapat gas. Jadi sekali membeli langsung banyak. Harusnya pedagang menjatah konsumen cukup beli satu saja," tuturnya.

Kendati kekurangan gas, saban tahun kuota gas untuk Bantul terus ditambah. Misalnya pada tahun ini, alokasi gas untuk Bantul sebanyak 22.875 tabung per hari, sedangkan tahun lalu hanya 19.000 tabung.

"Sebenarnya tiap tahun bertambah, sudah memperhitungkan pertambahan jumlah penduduk, logikanya gas mencukupi tidak kurang," paparnya.

Ia juga membantah, kurangnya gas karena beralihnya konsumen gas ukuran 12 Kg ke ukuran 3 Kg sebagai buntut kenaikan harga gas 12 Kg. Menurut Sulistyanta, perpindahan konsumen gas 12 Kg ke 3 Kg terhitung hanya 4%.