LIBUR LEBARAN : Pedagang Kerajinan di Malioboro Meraup Berkah

Pengunjung tengah memilah-milah tas di kios milik Supriyadi di Malioboro, Jogja, Senin (20/7/2015). (Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah)
21 Juli 2015 09:04 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Libur lebaran ini, pedagang kerajinan di maliooro meraup berkah dari banyaknya pembeli

Harianjogja.com, JOGJA- Liburan di Jogja terasa belum lengkap jika belum ke Malioboro. Momentum libur Lebaran kali ini pun menjadi ladang berkah bagi penjual di sepanjang Malioboro.

Semakin lama, objek wisata di DIY bertambah banyak. Wisatawan pun semakin memiliki pilihan kemana akan menghabiskan waktunya ketika berlibur di DIY. Dari ratusan lokasi wisata yang ada di DIY, Malioboro yang terletak di Jogja tetap menjadi ikon yang wajib dikunjungi.

Istilahnya, belum afdol jika belum berkunjung ke Malioboro, atau belum ke Jogja sebelum ke Malioboro.

Di kawasan Malioboro, wisatawan bisa memanjakan diri dengan berbelanja aneka oleh-oleh khas Jogja. Baik kaos, tas, pernak-pernik, makanan, hingga minuman khas Jogja. Suasana ramai akan terasa ketika melalui ruas jalan poros garis imajiner Kraton Jogja itu. Keramaian itu pun semakin padat ketika memasuki musim liburan seperti libur Lebaran saat ini.

Pengunjung dari berbagai  daerah dan negara tumpah ruah. Saking ramainya, untuk melalui Jalan Malioboro yang biasanya diperlukan waktu dua hingga tiga menit saja, bahkan sampai harus ditempuh selama 15 menit dengan sepeda motor. Setiap kios maupun toko tampak ramai
dijejali pengunjung. Rupanya, libur Lebaran membawa berkah bagi penjual di pelataran Malioboro. Omzet pun kabarnya bisa naik 14 kali lipat hingga 20 kali lipat.

Di salah satu kios tas milik Supriyadi, 28, tampak sebuah transaksi sedang berlangsung. “Yang ini berapaan, Bang?” tanya seorang calon pembeli sembari memegang sebuah tas kanvas. “Yang ini Rp45.000, Mbak,” jawab Supriyadi. Setelah memilah-milah, akhirnya pembeli berjilbab itu
memutuskan untuk membeli dua buah tas kanvas.

“Alhahmdulillah, selama libur Lebaran ini jualannya laku keras,” ujar pria asal Lendah, Kulonprogo tersebut.

Peningkatan penjualan pun bisa dibilang fantastis. Pada hari biasa, dalam waktu sehari omzetnya antara Rp500.000 hingga Rp700.000. Namun, sejak Sabtu (18/7/2015), dalam waktu sehari ia bisa meraup omzet Rp7 juta hingga Rp10 juta. Tak sia-sia ia setiap hari pulang pergi dari Kulonprogo. Ia buka dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Pada pukul 01.00 WIB, dia pulang ke Kulonprogo.

“Sengaja tidak libur karena lebih enak cari rejeki. Apalagi saat ramai seperti sekarang,” ujar pemuda yang sudah berjualan di Malioboro sejak lima tahun lalu itu.

Ada tiga jenis tas yang ia jual yakni tas kanvas, tote bag, dan string bag. Setiap potong tas kanvas dijual Rp45.000, tote bag Rp25.000, dan string bag Rp30.000. Dalam sehari, pria yang sempat bekerja untuk orang lain selama dua tahun ini mengatakan, bisa menjual 100 tas kanvas, 50 tote bag, dan 50 string bag.

Pada hari biasa, paling banyak ia bisa menjual 40 tas kanvas, 20 tote bag, dan 20 string bag. Selama liburan Lebaran ini, ia menyetok hingga 3.000 tas.

Manisnya berkah Lebaran pun dikecap Budi, penjual kaos di Malioboro asal Kulonprogo. Dalam sehari, ia bisa meraup omzet hingga Rp5 juta atau mengalami kenaikan sekitar 10 kali lipat dari omzet biasanya yaitu Rp500.000.

Bapak dua anak ini menjual beberapa jenis kaos dengan hiasan khas Jogja. Untuk kaos lengan panjang border dijual dengan harga Rp55.000 per potong, lengan panjang sablon Rp45.000, dan lengan pendek Rp35.000 per potong.

Biasanya, dalam sehari ia hanya mampu menjual 20 sampai 30 potong, namun saat libur Lebaran dia bisa menjual hingga 500 potong. Ia pun menyetok hingga 3.000 potong kaos selama Lebaran.

“Satu pembeli bisa membeli lima potong sampai satu kodi. Saya juga melayani grosiran tentunya dengan harga yang berbeda,” ujar dia.