PARKIR DI JOGJA : Rencana Kenaikan Tarif Parkir Ditolak

23 Juli 2015 17:20 WIB Jogja Share :

Parkir di Jogja masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dicari solusinya

Harianjogja.com, JOGJA-Rencana kenaikan tarif parkir untuk mengurangi kepadatan kendaraan bermotor di Jogja ditolak dewan.

Ketua DPRD Jogja Sujanarko menilai selama berorientasi kepada pembatasan penggunaan kendaraan bermotor, maka menaikkan tarif parkir bukan solusi. Diungkapkannya, saat ini yang perlu dilakukan Pemkot Jogja adalah mencari lahan baru milik warga untuk dibebaskan dan dibuat lahan parkir.

“Kalau ditanya masih ada lahan atau tidak, harusnya masih ada karena selama ini juga hotel-hotel dibangun di Jogja masih ada lahan,” jelasnya kepada Harian Jogja, Rabu (22/7/2015).

Ia menegaskan, selama ini Pemkot Jogja belum pernah memunculkan wacana seperti itu.

Koko menuturkan, pembebasan lahan milik warga tidak harus mengarah kepada investasi atau kegiatan yang memberikan pemasukan besar untuk pemkot. Sebab, persoalan parkir sudah menjadi masalah setiap tahun yang hadir setiap musim libur Lebaran dan tahun baru.

“Pemkot harus fokus mengurangi kepadatan melalui pembebasan lahan milik warga yang akan dibangun sebagai lahan parkir,” katanya.

Koko juga menyayangkan, apabila keterbatasan lahan parkir di Jogja direspon masyarakat dengan melarang wisatawan datang berkunjung. Bagaimana pun, paparnya, Jogja adalah destinasi wisata dan Pemkot bertanggung jawab dalam penyelenggaraan fasilitas umum.

Kendati demikian, ia tidak menampik pembebasan lahan juga terkendala harga perhitungan tim appraisal dan keinginan warga. Dicontohkannya, tim appraisal menentukan harga Rp50.000 per meter persegi, namun warga menghendaki Rp75.000 per meter persegi.

Sebelumnya, Walikota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan rekayasa parkir dan kenaikan tarif dapat menjadi solusi keterbatasan lahan parkir di Jogja. “Tapi tidak bisa langsung untuk menaikkan tarif harus penuh kajian,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Seperti yang diketahui persoalan lahan parkir di Jogja selalu datang setiap tahun dan tak kunjung selesai. Selain minimnya lahan parkir, persoalan juru parkir (jukir) liar yang mematok tarif tidak sesuai aturan menjadi dampak dari keterbatasan lahan parkir.

Menurut Kepala UPT Malioboro Teguh Syarief munculnya jukir liar tidak bisa dipisahkan dari permintaan. Pasalnya, TKP Beringharjo dan Abu Bakar Ali yang paling dekat dengan Malioboro tidak mungkin menampung seluruh kendaraan pengunjung.