Advertisement

INFRASTRUKTUR GUNUNGKIDUL : Pengunjung Embung Gunung Panggung Kecewa, Ini Penyebabnya

David Kurniawan
Rabu, 16 Desember 2015 - 06:20 WIB
Mediani Dyah Natalia
INFRASTRUKTUR GUNUNGKIDUL : Pengunjung Embung Gunung Panggung Kecewa, Ini Penyebabnya

Advertisement

Infrastruktur Gunungkidul untuk embung Gunung Panggung diharapkan diperbaiki.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Salah seorang pengunjung, Ahmad Mawardi mengaku kecewa dengan kondisi Embung Gunung Panggung. Sebelum naik ke lokasi, ia mengira kondisinya sama seperti di lokasi Embung Batara Sriten yang ada di Dusun Sriten, Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar. Kenyataanya, kondisi embung kering kerontang dengan kerusakan terlihat di beberapa titik.

Advertisement

“Ternyata tidak sesuai dengan harapan. Airnya tidak ada, padahal untuk bisa sampai ke sini [lokasi embung] harus menaiki bukit,” kata Ahmad, Selasa (15/12/2015)

Dia mengakui, lokasi embung sangat bagus. Letaknya yang di atas perbukitan, membuat pengunjung bisa melihat dengan jelas keberadaan Waduk Gajah Mungkur yang dilengkapi dengan keindahan pemandangan alam lainnya.

“Tapi kalau kondisinya seperti ini jadi tidak bagus lagi. kalau bisa diperbaiki lagi sehingga bisa menarik orang untuk berkunjung,” ungkap Pemuda asal Desa Semin ini.

Keluhan yang sama juga disuarakan oleh Gito Rejo, warga Dusun Jelok, Pundungsari, Semin. Setiap harinya lelaki paruh baya ini menggarap sepetak ladang yang ada di bawah embung. Untuk itu, ia tahu perkembangan dari awal pembangunan hingga kondisi sekarang ini.

Gito mengakui beberapa bulan setelah diresmikan, debit air embung sempat mencapai pinggang orang dewasa, tapi kondisinya sekarang sudah turun drastis. Dia menduga, penurunan debit disebabkan rusaknya lapisan geomembrane sehingga air yang tertampung masuk ke dalam tanah.

“Kerusakannya sangat banyak dan mecapai 200 titik yang bocor. Saya bisa bilang, karena di setiap titik yang rusak ditandai dengan nomor. Tapi sudah sejak sebulan lalu titik-titik yang bolong sudah ditambal petugas ,” katanya.

Menurut dia, kerusakan tidak hanya terjadi pada fasilitas di embung. Pasalnya, tanaman buah kelengkeng dan durian yang ditanam juga tidak tumbuh dengan subur. “Banyak yang mati karena kurang dirawat,” ujarnya.

Gito pun berharap keberadaan Embung Gunung Panggung lebih diperhatikan lagi. Jangan sampai, fasilitas itu dibiarkan sia-sia dan buang-buang anggaran. “Kalau bisa diperbaiki lagi, karena untuk membuatnya butuh biaya yang besar. Jika kondisinya baik, saya yakin banyak pengunjung yang datang,” imbuh dia.

Untuk diketahui, pembangunan embung ini bersamaan dengan pembangunan Embung Batara Sriten. Dana pembuatan dua embung itu merupakan hibah dari Pemerintah DIY sebesar Rp3 miliar.

Kondisi Embung Gunung Panggung sangat berbeda jauh dengan embung Batara Sriten. Meski pembangunannya dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan, namun Embung Batara Sriten lebih maju karena sudah menjadi salah satu ikon wisata di Kecamatan Nglipar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

News
| Sabtu, 04 April 2026, 15:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement