PENELITIAN TERBARU : Barongsai Kini Sebagai Simbol Keberagaman

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Moch, Choirul Arif,
02 Februari 2016 01:20 WIB Mediani Dyah Natalia Sleman Share :

Penelitian terbaru ini mengenai pertunjukkan barongsai.

Harianjogja.com, SLEMAN– Pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967 oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000 menunjukkan keberagaman.

Tradisi Barongsai, saat ini sangat begitu populer di kota Surabaya. Dalam setiap kegiatan, tradisi ini senantisasi muncul. Tidak lagi sebatas pada perayaan Tahun Baru Imlek, tetapi berbagi acara besar lain dan  dilakukan pegiat Barongsai yang umumnya orang-orang warga Tionghoa muslim Surabaya.

Menurut Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Moch, Choirul Arif, di masa Orde Baru, pelakon Barongsai didominasi oleh warga Tionghoa yang beragama Konghucu dan Buddha, setelah reformasi di tahun 2000, pelaku Barongsai berganti dengan pelakon beretnis Jawa dan Madura beragama Islam atau Kristen.

“Pertunjukan Barongsai  dengan mudah ditemui di berbagai acara di Surabaya,” Kata Chorul dalam ujian terbuka promosi doktor di sekolah Pascasarjana UGM, Jumat (29/1/2016) seperti dikutip dari rilis yang Harianjogja.com, terima.

Barongsai di Surabaya, kata Choirul, menjadi komoditas yang digunakan untuk memperoleh keuntungan oleh pegiatnya. Bahkan geliat pertunjukan Barongsai di Surabaya mampu menarik para pemilik modal, Pemkot Surabaya, pemegang otoritas budaya tionghoa, dan pemiliki sasana Barongsai yang menjadikan Barongsai di kota Suabaya sebagai salah satu daya tarik wisata.

Meski begitu, kemunculan Barongsai menurut Choruil tidak serta merta muncul, tetapi mengalami proses negosisasi budaya etnik melibatkan banyak pihak  dan kepentingan.

“Proses ini tidak hanya melibatkan kalangan elit warga Tionghoa Surabaya namun pihak lain dan kalangan akar rumput yang menjadi pelaku utama dari pertunjukan Barongsai,” terangnya.

Kemunculan Barongsai di ranah publik bagi warga Tionghoa Surabaya dianggap sebagai simbol kebebasan serta menjaga tradisi budaya di tengah menurunnnya animo anak muda warga Tonghoa pada tradisi Barongsai dan makin berkurangnya pegiat Barongsai.

Kerja kreatif agen dan pegiat Barongsai di Surabaya menurut Choriul juga mampu mengkonstruksi peran baru Barongsai.

“Melalui peran baru tersebut diharapkan tercipta ruang kemungkinan dalam menjamin keberlangsungan tradisi Barongsai sebagai bagian dari warisan budaya leluhur,” terangnya