PENATAAN KALI CODE : Perjalanan Kali Code Menjadi Objek Wisata

03 Februari 2016 18:54 WIB Jogja Share :

Penataan Kali Code menjadi objek wisata telah dimulai dengan berbagai gerakan dari bantaran kali

Harianjogja.com, JOGJA- Membentang sejauh 41 kilometer dari kaki Merapi sampai sungai Opak membuat kali Code menyimpan banyak potensi yang bisa dikembangkan. Sayangnya potensi-potensi itu masih belum banyak disadari baik oleh masyarakat setempat maupun pemerintah daerah.

Di Kota Jogja, Code memanjang sejauh enam kilometer. Di sepanjang alirannya terdapat sekitar tujuh kecamatan,14 kelurahan dan 66 RW. Diperkirakan sekitar sepertiga warga Kota Jogja tinggal di wilayah bantatan kali Code. Kebanyakan merupakan daerah kumuh. Dengan kepadatan itu, membenahi Code bukan hal mudah meskipun tidak mustahil.

Harris Syarif Usman, sekretaris Pemerti Kali Code menceritakan meskipun saat ini pentingnya Code belum sepenuhnya dipahami, sudah mulai muncul berbagai gerakan dari warga bantaran kali untuk mulai merawat sungai ini.

Gerakan itu muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kelompok Merti Kali, Sekolah Sungai yang berupaya mengenalkan peran dan fungsi sungai, sampai kampung tanggap bencana yang berusaha menjaga lingkungan agar tak sampai terdampak luapan Code.

"Pesertanya juga beragam, dari pemuda, ibu PKK, tokoh masyarakat sampai akademisi dan praktisi. Ini pertanda baik karena makin banyak yang peduli dengan Code," kata Harris.

Lewat berbagai aksi yang dilakukan, perlahan mulai tampak perubahan di lingkungan Code. Harris mencontohkan sekarang makin banyak rumah yang menghadapkan rumahnya ke arah sungai.

Selain itu jumlah warga yang buang air dan mandi di sungai pun sudah berkurang drastis. Bahkan dia mencatat pula volume sampah yang dibuang ke Code sudah tak lagi sebanyak dulu.

"Warga mulai sadar untuk tak buang sampah sembarangan, tapi kalau kualitas air sampai sekarang masih jauh dari selesai," tutur dia.

Bila langkah itu selesai, Harris optimis potensi Code sebagai lokasi wisata urban bisa terkuak. Aliran Code dinilainya potensial untuk aneka kegiatan wisata air sebagai pendukung, warga juga bisa mengembangkan sentra kerajinan dan area makan.

"Sekarang saja jelajah kampung Code ada yang berminat. Nanti bisa juga didukung guest house di rumah warga. Kami optimis 2030 Code bisa berubah," imbuh dia.

Warga bantaran Code dan aktivis lingkungan Totok Pratopo sepakat dengan Harris. Warga bantaran Code di Jetisharjo sempat juga mengembangkan wisata air di Code. Namun langkah itu dihentikan sementara untuk menyiapkan peralatan keselamatan yang lebih baik.

"Tamunya ada, tapi kemudian kami berpikir soal keselamatan, bila belum benar-bemar siap kami belum berani membukanya lagi," aku Totok.

Sebagai alternatif wisata air, Totok mengatakan wisata edukasi juga cukup ramai penggemar. Di lingkungannya dalam sebulan setidaknya ada empat sampai lima rombongan peneliti yang datang berkunjung. Jumlah itu belum termasuk kunjungan dari sekolah-sekolah yang datang untuk belajar tentang sungai.

Totok menganggap ramainya minat untuk belajar tentang Code itu bisa menjadi peluang baru untuk mengembangkan konsep wisata minat khusus yang berbeda.

"Kami menyediakan sarana belajar, sebagai gantinya semakin banyak masyarakat yang paham pentingnya peran sungai," tutur dia.