PERNIKAHAN DINI : Duh, Remaja Pilih "Berhubungan" Lebih Dulu Agar Direstui

Sejumlah pelajar Kota Kediri, Minggu (6/12/2015), menggelar kampanye pencegahan pernikahan dini, Mereka melakukan pawai di jalur-jalur jalan protokol Kota Kediri, Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebanyak 11,3% remaja perempuan telah menikah pada usia 10 tahun-15 tahun, dan 32% menikah pada usia 16 tahun-18 tahun. (JIBI/Solopos/Antara - Prasetia Fauzani)
09 Februari 2016 03:20 WIB Jogja Share :

Pernikahan dini di DIY masih tinggi.
 
Harianjogja.com, JOGJA – Tingginya angka pernikahan dini di DIY membuat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY menjadikan daerah istimewa ini sebagai salah satu target program Generasi Berencana (Genre). Diharapkan program ini bisa meningkatkan kesadaran remaja dan mengurangi angka pernikahan dini.

Berdasarkan data PKBI DIY, jumlah remaja putri usia 10-18 tahun yang melahirkan di tahun 2015 sebanyak 1.078 orang. Jumlah itu terdiri dari 405 kelahiran di Gunungkidul, 364 kelahiran di Bantul, 110 kelahiran di Sleman dan 92 kasus kelahiran di DIY.

Direktur Direktur Perencanaan, Pengendalian Kependudukan BKKBN Pusat Chamnah Wahyuni baru-baru ini mengatakan pihaknya sempat mencari tahu alasan tingginya remaja yang melahirkan. Hasilnya menurut Chamnah cukup mengejutkan lantaran ada remaja yang sengaja berhubungan intim di luar nikah agar hubungan mereka direstui dan dinikahkan.

Berbekal fakta dan data itu, pihaknya berusaha mengembangkan program Genre. Program itu memfasilitasi remaja agar bisa hidup sehat dan menyadari pentingnya kesehatan reproduksi. Program ini juga berusaha mengedukasi kapan usia menikah yang baik, kapan mempersiapkan kehamilan serta merancang keluarga yang baik.

“Sasarannya remaja, mahasiswa dan keluarga yang punya remaja yang belum menikah. Nantinya kader Genre itu  yang akan saling berbagi dengan remaja lainnya,” kata dia.