DEMAM BERDARAH SLEMAN : Jumlah Kasus Turun, Satu Tewas

Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung memberlakukan status Siaga I Demam Berdarah menyusul meninggal dunianya seorang pasien anak penderita demam berarah dengue (DBD) dan meningkatnya jumlah penderita akibat penyakit tersebut. Alkibat endemi DBD Tulungagung itu, pasien yang menjalani perawatan akibat penyakit itu di ruang Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (15/1/2016), membanjir. (JIBI/Solopos/Antara - Destyan Sujarwoko)
09 Februari 2016 07:55 WIB Sunartono Sleman Share :

Demam berdarah Sleman berhasil ditekan.

Harianjogja.com, SLEMAN - Dinas Kesehatan Sleman kembali mewaspadai wabah penyakit demam berdarah (DB). Memasuki awal 2016, jumlah DB di Sleman terdapat 52 kasus dengan satu korban meninggal dunia.

Berdasarkan data Dinkes Sleman, kasus DB selama 2015 mencapai 517 dengan sembilan pasien meninggal dunia. Kasus tertinggi terjadi pada bulan Februari terdapat 106 kasus dan Januari 99 kasus kasus. Jika dibandingkan dengan tahun 2016, kasus DB di Sleman cenderung menurun nyaris 50%, karena dari pendataan Dinkes Sleman, pasien DB dari awal Januari hingga awal Februari hanya terdapat 51 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Mafilindati Nuraini menjelaskan, meski terjadi penurunan di bulan yang sama, pihaknya tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Sebab wilayah ini terdapat satu korban jiwa, seorang anak dari Kecamatan Seyegan, Sleman.

"Selama 2016 ini ada satu angka kematian," terang Linda akhir pekan lalu.

Ia mengakui ada sejumlah kecamatan di Sleman yang angka bebas jentik belum mencapai 95%. Jumlahnya mencapai 12 kecamatan sekaligus dimasukkan dalam daftar daerah endemis. Wilayah ini terdiri atas Depok, Mlati, Ngaglik, Gamping, Godean serta kecamatan lainnya.

"Kami sedang fokus melakukan pencegahan di daerah 12 yang endemis itu," kata dia.

Proses pencegahan dilakukan secara rutin tiap hari Jumat dengan monitoring gerakan jumat bersih bersama Pokjanal DBD untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Agenda itu mulai dilakukan sejak Jumat (8/1/2016) hingga April mendatang. Gerakan ini butuh dukungan semua pihak terutama masyarakat terutama untuk 3MP+ minimal sepekan sekali. Mengingat butuh waktu antara lima sampai tujuh hari waktu berkembangnya larva menjadi nyamuk dewasa.