Anggaran Terbatas, Penataan Wajah Kota Wonosari Mandek
Penataan kawasan ibu kota Kabupaten Gunungkidul di Wonosari belum dilanjutkan karena keterbatasan anggaran dan prioritas infrastruktur.
Taman Kuliner Wonosari. (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Penataan Gunungkidul di Alun-alun masih mengenai PKL.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sejumlah pedagang kaki lima di kawasan Alun-alun Wonosari resah adanya rencana penataan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten. Pedagang takut kepindahan dari lokasi tersebut bisa mengurangi penghasilan mereka setiap harinya.
Salah seorang PKL di Alun-alun Wonosari Deny mengatakan, pemkab jangan gegabah dalam melakukan penataan. Ia pun berharap sebelum relokasi dilakukan, ada perencanaan yang matang sehingga upaya tersebut tidak membuat pedagang resah.
“Jangan asal gusur, kalau bisa dilakukan dengan cara bertahap,” kata Deny kepada wartawan, Senin (15/2/2016). (Baca Juga : http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/05/penataan-gunungkidul-dulu-pkl-tidak-boleh-berjualan-di-alun-alun-sekarang-2-688237">PENATAAN GUNUNGKIDUL : Dulu PKL Tidak Boleh Berjualan di Alun-alun, Sekarang?)
Menurut dia, upaya penataan jika tidak dilakukan dengan perencanaan yang matang malah bisa menimbulkan polemik di lapangan. Tidak dipungkirinya, untuk saat ini sejumlah pedagang sudah merasa resah karena pedagang takut tidak akan laku saat pindah ke lokasi yang baru.
“Bagaimana tidak khawatir, hingga sekarang belum ada kejelasan secara pasti. Apalagi sebagai pedagang lesehan, kami juga butuh lokasi yang luas, trus di tempat baru nanti apa akan mencukupi kebutuhan kami,” ungkapnya.
Kekhawatiran terhadap rencana pemkab juga disuarakan Sutarmono, PKL lain di alun-alun. Dia tidak menampik jika pedagang ingin upaya relokasi dilakukan bisa memberikan kepastian bagi pedangan yang ada. Kekhawatiran muncul karena ada rumor bahwa kawasan taman kuliner sebagai lokasi baru tidak mencukupi kebutuhan pedagang.
“Kalau boleh memilih, kami hanya ingin ditata dan dibina. Misalnya para pedagang diberi pengertian untuk menjaga kebersihan dan kesehatan makanan yang disajikan,” kata Sutarmono.
Dia berharap, pemkab bisa memahami kondisi yang ada pada PKL berjualan. Jika memang upaya relokasi merupakan harga mati, ia meminta garansi dagangan mereka laku di tempat yang baru.
“Kami berharap ada solusi yang baik dalam upaya penataan itu,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penataan kawasan ibu kota Kabupaten Gunungkidul di Wonosari belum dilanjutkan karena keterbatasan anggaran dan prioritas infrastruktur.
Pajak marketplace atau PPh 22 berlaku 1 November 2026. Ekonom mendorong pemungutan otomatis dan terintegrasi agar ramah UMKM.
DPRD Sleman mengevaluasi kampus mitra Program Beasiswa Sleman Pintar untuk memastikan program efektif dan mahasiswa lulus tepat waktu.
Soft tenis beregu putra Indonesia meraih perunggu Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah kalah 0-2 dari Jepang di semifinal.
PBB dan GCC mengecam serangan Houthi ke Arab Saudi yang menyasar fasilitas sipil. Rudal menuju Riyadh berhasil dicegat pertahanan Saudi.
Industri furnitur membidik ekspor US$6 miliar pada 2031, tetapi keterbatasan modal kerja dan akses pembiayaan masih menjadi tantangan.