BPJS KESEHATAN : Di Jogja, Klaim Rp1,5 Miliar, Pendapatan Premi hanya Rp300 Miliar

JIBI/Solopos/Maulana SuryaTuti, 37 menunjukkan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di ruang tunggu kantor Askes, Purwosari, Laweyan, Solo, Senin (6/1). Selain peserta pengalihan dari Askes, Jamkesmas, TNI - PoIri dan Jamsostek, masyarakat dapat mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan yang beroperasi pada 1 Januari 2014.
23 Mei 2016 18:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

BPJS Kesehatan di Jogja menanggung klaim Rp1,5 triliun namun pendapatan hanya Rp300 miliar

Harianjogja.com, JOGJA-Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Jogja menanggung claims ratio yang besar yakni 478%.

Rinciannya, pencairan untuk klaim mencapai Rp1,5 triliun sementara pendapatan dari premi hanya Rp300 miliar. Kondisi ini membuat BPJS Kesehatan melakukan percepatan rekrutmen peserta untuk membantu menopang pembiayaan peserta yang sakit, yang telah menggunakan jaminan kesehatan dari BPJS Kesehatan.

Kepala Kantor BPJS Kesehatan Cabang Utama Jogja Upik Handayani tidak menampik jika ada peserta yang mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan memang tujuannya untuk berobat karena yang bersangkutan sebelumnya telah didiagnosa sakit.

Untuk tipe peserta seperti ini, BPJS Kesehatan memang tidak boleh mengelak karena menurut undang-undang, pada akhir 2019 nanti seluruh penduduk masyarakat Indonesia wajib memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“BPJS memang tidak boleh menolak pendaftaran. Maka strateginya kita rekrut masyarakat yang sehat untuk menopang yang sakit. Kita akan sosialisasikan hak dan kewajiban mereka [sebagai peserta BPJS Kesehatan],” kata Upik, Jumat (20/5/2016) lalu.

Secara keseluruhan, lanjutnya, masyarakat yang sehat secara medis dan yang berisiko sakit belum tersentuh secara optimal. Oleh sebab itu, BPJS Kesehatan melalui beberapa kerjasama yang dilakukan dengan  pihak-pihak yang bersentuhan dengan masyarakat, gencar melakukan percepatan perekrutan.

Hal ini sudah dilakukan dengan RS Bethesda. Tiga unit usaha yang dimiliki rumah sakit tersebut memiliki 3.000 warga binaan. Melalui komunitas-komunitas seperti itu mampu mempercepat pertambahan peserta yang diyakini mampu menekan rasio klaim yang tinggi. Begitu pula dengan tingkat kepatuhannya akan berjalan lancar jika dapat dikoordinir secara kolektif.

Hingga saat ini, sudah ada 2,6 juta penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menjadi peserta BPJS Kesehatan dari jumlah 3,5 juta jiwa. Selama ini, lanjut Upik, 85% biaya klaim BPJS Kesehatan untuk membayar perawatan di rumah sakit.

Lima besar penyakit yang di-cover BPJS Kesehatan di antaranya diabetes melitus, hipertensi, jantung, kanker, dan stroke.