Advertisement
HARGA DAGING SAPI: Pakar : Kebijakan Daging Impor Tak Solutif
Advertisement
Harga daging sapi dijawab pemerintah dengan menggelontorkan daging impor.
Harianjogja.com, JOGJA-Daging sapi beku yang didatangkan dari luar negeri tak membuat pedagang daging sapi lokal takut. Mereka yakin jika kehadiran daging beku tersebut tidak banyak diminati konsumen.
Advertisement
“Saya enggak takut [dengan daging impor] karena bukan saingan kita,” ujar Supri, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Kranggan, Jumat (10/6/2016).
Ia yakin karena konsumen lebih senang mengonsumsi daging segar dibandingkan daging imporan yang beku. Saat ini daging sapi impor memang belum masuk pasar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kalaupun suatu saat nanti masuk DIY, Supri pun enggan menjualnya. Ia trauma dengan pengalaman tahun 2005 lalu saat terpaksa membeli daging sapi beku di salah satu hipermarket di Jogja.
Waktu itu ia membeli daging 1 karton isi 30 kg daging sapi beku untuk hajatan di rumahnya. Setiap kilogram dijual Rp50.000.
“Begitu saya encerkan [dari kondisi daging yang beku] lalu ditimbang, bobotnya mati [berkurang] empat kilo. Itu saja saya pakai [konsumsi] sendiri, bagaimana kalau saya jual? Pasti rugi,” tuturnya.
Kenyataan tersebut menurutnya cukup membuktikan jika timbangan daging beku tidak sesuai berat daging aslinya karena kandungan air di dalamnya terlalu banyak.
“Alasan lainnya, daging beku itu cepat busuk. Kalau seperti ini [fresh] mau dijual besok pun masih segar,” kata dia.
Hingga Jumat (10/6/2016), ia masih menjual daging sapi kelas I dengan harga Rp115.000 per kg dan kualitas II Rp110.000. Ia mengatakan, jika pemerintah serius ingin menekan harga daging di pasaran, cara yang tepat bukan impor daging beku tapi impor bibit sapi jantan untuk dikembangbiakkan di Indonesia.
Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus. Menurutnya kebijakan impor untuk menekan harga daging merupakan kebijakan jangka pendek dan tidak menyelesaikan minimnya pasokan daging sapi nasional.
“Selama ini tidak ada tambahan produksi populasi sapi. Hanya memindahkan sapi dari satu daerah ke daerah lain,” ujarnya.
Untuk itu, pemerintah perlu melakukan impor bibit sapi hidup untuk menambah jumlah populasi sapi. Minimal 200.000 ekor bibit sapi yang kemudian disebar ke beberapa daerah. Cara ini menurutnya memang tidak mudah, untuk itu pemerintah dapat menggandeng pihak swasta untuk melakukan impor bibit sapi ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penerbangan Singapore Airlines ke Dubai Masih Dibatalkan, Ini Sebabnya
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- WFH Jumat untuk ASN Sleman Mulai Digodok, Layanan Publik Tetap Jalan
- Jumat Agung, Tablo Salib di Gereja Pugeran Jogja Dihidupkan Anak Muda
- Kunjungi Museum Andi Bayou, DPRD DIY Susun Regulasi Baru
- Angin Kencang Terjang Sleman, Pohon Tumbang Timpa Mobil dan Rumah
Advertisement
Advertisement




