KERUSUHAN SUPORTER : Polisi Tembakkan Gas Air Mata di Stadion Maguwoharjo, Puluhan Orang Tumbang

Sejumlah suporter perempuan digotong karena tumbang dalam kerusuhan saat PSS Sleman kontra Persepam Madura Utama digelar di Stadion Maguwoharjo Sleman, Sabtu (1/10). (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
01 Oktober 2016 20:04 WIB Arief Junianto Sleman Share :

Kerusuhan suporter dalam laga PSS Sleman kontra Persepam Madura Utama yang digelar Sabtu (1/10/2016) di Stadion Maguwoharjo menyebabkan polisi harus menembak gas air mata

Harianjogja.com, SLEMAN- Pasca peluit panjang pertanda laga antara PSS Sleman kontra Persepam Madura Utama yang digelar Sabtu (1/10/2016) di Stadion Maguwoharjo dibunyikan wasit, ulah rusuh penonton dan suporter PSS Sleman yang sudah terlihat sejak menit ke-73 terus berlanjut.

(Baca juga : http://cms.solopos.com/?p=757567" target="_blank">ISC B 2016 : PSS Sleman Gagal Amankan 3 Poin Pertama)

Jika sebelumnya ulah rusuh hanya dilakukan oleh suporter yang ada di tribun barat, kali ini kerusuhan justru meluas hingga ke sisi tribun timur dan tenggara. Bahkan pihak kepolisian sempat mengambil tindakan untuk menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Akibatnya, tak lama setelah massa dibubarkan, puluhan suporter Sleman pun bertumbangan. Korban yang banyak didominasi oleh suporter perempuan itu nampak satu per satu digotong oleh rekan mereka ke ruang medis yang ada di lantai dasar stadion.

Tak hanya itu, beberapa dari korban itu pun tampak histeris seperti kesurupan. Mereka terlihat berteriak dan meronta-ronta. Melihat hal itu, beberapa petugas Panitia Pelaksa (Panpel) pun tampak kebingungan dalam menangani korban yang terus berjatuhan.

Pria Utama, salah satu suporter yang ditemui Harianjogja usai menggotong rekannya ke ruang medis mengaku tak tahu menahu penyebab kerusuhan di tribun tenggara itu. Dirinya yang ketika itu hendak keluar stadion, dikejutkan dengan pergerakan massa  suporter lainnya. “Saya kaget, kawan-kawan pada lari semua. Akhirnya saya dan teman-teman saya pun ikut lari,” kisahnya.

Lantaran tak kuat menahan desakan ribuan suporter, Riani, salah seorang kawannya mendadak pingsan.  Ia menduga, asap dari gas air mata yang ditembakkan polisi lah penyebabnya. “Memang, tak lama setelah ada keributan itu, tribun kami mendadak dipenuhi asap,” katanya.

Begitu pula dengan Warsito, salah seorang suporter lainnya. Ia tampak panik ketika salah seorang rekan perempuannya berteriak-teriak seperti kesurupan. “Saya tidak tahu. Memang tadi teman saya itu sempat pingsan di atas. Lalu saya menggotongnya bersama teman yang lain. La kok begitu nyampe di bawah, dia langsung berteriak-teriak,” ucapnya setelah lega melihat rekannya siuman.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, tak ada satu pun pihak Panpel PSS Sleman yang bersedia berkomentar terkait kerusuhan itu. Begitu pun dengan Ketua Panpel PSS Sleman Edijanto yang hingga kini belum bisa dihubungi.