KULINER KULONPROGO : Es Tape Bok Begal yang Legendaris, Dari Rp15 Kini Rp2.000

Warung Es Tape Bok Begal milik Rubingin berdiri sejak 1975 silam di wilayah Desa Panjatan, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo. Foto diambil pada 18 September 2016. (Rima Sekarani I.N/JIBI - Harian Jogja)
02 Oktober 2016 07:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Kuliner Kulonprogo ini selain enak, juga legendaris

Harianjogja.com, KULONPROGO-Es Tape Bok Begal menjadi salah satu kuliner legendaris Kulonprogo karena sudah dijual sejak 1975 silam. Cita rasa dan kesegaran minuman dingin tersebut bahkan dipromosikan para pelanggan setianya secara turun-temurun.

Warung Es Tape Bok Begal berdiri di bawah pohon asam yang ada di sekitar area persawahan Desa Panjatan, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo. Pemiliknya, Rubingin, hanya menggunakan bambu dan terpal untuk membangun warung sederhana.

Lokasi tersebut memang dikenal dengan sebutan ‘Bok Begal’ karena konon diketahui sebagai wilayah yang rawan pembegalan. Namun, label itu justru menjadi strategi pemasaran yang pas bagi es tapai buatan Rubingin.

Rubingin sendiri tinggal di Dusun Sungapan, Desa Tirtorahayu, Kecamatan Galur. Sebelumnya, pria berusia 65 tahun tersebut berjualan es lilin keliling di Jogja selama sekitar tiga tahun hingga 1972.

Saat itu, es tapai sangat populer sehingga banyak yang berjualan di pinggir jalan. Rubingin pun tertarik untuk mempelajari cara pembuatan es tapai. Dia lalu memberanikan diri untuk menjual es tapai di Bok Begal sampai sekarang.

Rubingin mengolah setidaknya 10 kilogram tapai singkong setiap hari. Menurutnya, cara pembuatan es tapai sangat gampang. Tapai singkong hanya perlu dihaluskan lalu dicampur dengan air, gula, dan es batu yang telah diserut.

Bersambung halaman 2

Harga segelas es tapai awalnya hanya Rp15. Setelah 42 tahun berlalu, harganya tetap murah meski sudah dinaikkan beberapa kali, yaitu menjadi Rp2.000 per gelas. Es tapai akan menjadi lebih enak jika dinikmati bersama roti krim yang dijual Rp1.000 per bungkus. “Kalau dulu pakai roti kasur,” kata Rubingin kepada Harian Jogja, Minggu (18/9) pekan lalu.

Warung Es Tape Bok Begal buka setiap hari, biasanya mulai pukul 08.30 WIB. Pembeli akan terus berdatangan, baik yang memilih dibungkus maupun menikmatinya langsung di warung. “Kadang dua jam sudah habis, apalagi kalau tidak hujan. Banyak yang borong. Satu orang bisa beli 10 bungkus,” ujar Rubingin.

Rubingin berusaha mempertahankan kualitas es tapai buatannya agar tidak mengecewakan para konsumen. Apalagi banyak pelanggan setia yang turut membuat produknya semakin dikenal sehingga selalu laris manis. “Banyak pelanggan yang beli es tapai sejak dia masih sekolah sampai sekarang sudah punya anak dan cucu. Anak dan cucunya juga diajak beli di sini,” ungkap Rubingin.