Potret Kemiskinan di Gunungkidul, Rumah Gedek dan WC Cemplung

Petugas dari Gudang Bulog Logandeng sedang menurunkan jatah beras miskin untuk warga di Desa Bejiharjo, Karangmojo, Jumat (5/8/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
11 Oktober 2016 13:20 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Potret kemiskinan di Gunungkidul di antaranya masih banyaknya rumah gedek dengan toilet yang tidak layak

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Ribuan warga di pedalaman Gunungkidul belum memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang layak. Sementara ratusan warga diantaranya hidup di rumah berdinding gedek.

Kemiskinan masih menyelimuti ribuan keluarga di pedalaman Gunungkidul. Antara lain ditemukan di Kecamatan Semin dan Girisubo, Gunungkidul. Kecamatan Semin berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Wonosari, sedangkan Girisubo harus ditempuh dengan perjalanan sepanjang 45 kilometer lebih dari kota kabupaten.

Buruknya fasilitas MCK dan rumah hunian antara lain diungkapkan Kepala Desa Semin, Kecamatan Semin Tri Sutarno. Di Desanya, hampir 50% warga masuk kategor miskin. “Di desa sini ada 3.000 lebih keluarga, sebanyak 1.000 lebih merupakan warga miskin,” ungkap Tri Sutarno kepada media ini Senin (10/10/2016).

Lebih dari 1.000 warga tersebut kini menerima bantuan beras untuk keluarga miskin atau raskin. Beruntung kata Tri Sutarno, sejak raskin digelontorkan pemerintah, kini nyaris tidak ditemukan lagi warga mengonsumsi nasi aking lantaran krisis ekonomi.

Kendati demikian, dari sisi hunian dan kondisi sanitasi diakuinya masih buruk. Sebanyak 1.000 lebih warga yang dikategorikan miskin mayoritas tidak memiliki MCK atau toilet standar dengan fasilitas kloset.

“MCK-nya masih WC cemplung. Jadi enggak ada kloset, warga membuat galian di tanah [untuk pembuangan tinja],” paparnya lagi.

Bersambung halaman 2

Selain kualitas MCK yang buruk, kondisi hunian atau tempat tinggal mereka juga tidak kalah miris. Di Desa Semin terdapat 161 keluarga yang tinggal di rumah gedek. Sejatinya kata Tri, pemerintah telah berupaya menggelontorkan bantuan seperti bedah rumah dan pembangunan MCK. Namun banyaknya warga miskin belum mampu menghapus persoalan hunian dan MCK tidak layak di Semin.

Pada 2013, pemerintah setempat melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) kata dia telah membantu pembangunan rumah tidak layak huni sebanyak 20 unit. Belum lama ini Pemerintah Desa Semin juga menggelontorkan sebagian dana desa untuk bedah rumah sebanyak tujuh unit. Pemerintah Desa juga membantu pembangunan MCK sebanyak 10 unit. Namun keterbatasan anggaran membuat pembangunan tidak maksimal.

Tahun ini Desa Semin mendapatkan Rp1,6miliar anggaran desa baik Alokasi Dana Desa (ADD) maupun Dana Desa (DD). Sesuai aturan, pembangunan masyarakat atau belanja publik mendapat alokasi 60% dari ADD, sisanya untuk membiayai kelembagaan desa termasuk menggaji pamong desa.

Sementara itu, kondisi hunian dan sanitasi warga Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo yang terletak paling timur Kabupaten Gunungkidul dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah juga tidak kalah memprihatinkan.

Kepala Seksi (Kasi) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Songbanyu, Parjo mengungkapkan, sebanyak 369 warganya terdaftar sebagai penerima raskin. Sebanyak 200-an diantaaranya hingga kini menghuni rumah gedek. Selain itu terdapat sekitar 125 keluarga dari total warga miskin penerima raskin yang kini bergantung pada WC Cemplung.

”Selama ini dari Pusat atau kabupaten juga belum ada bantuan,” papar Parjo. Tahun depan, pemerintah desa berencana mengalokasikan sebagian dana desa untuk membangun MCK tak layak standar di Songbanyu. “Targetnya 25 sampai 30 MCK dulu,” jelas dia.