Teroris Menyasar Dunia Maya untuk Rekruitmen dan Galang Dana

Salah satu pembicara menyampaikan materi dalam acara 3rd APSA International Conference Cyber Attack and Terrorism yang digelar di Ballroom Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Rabu (12/10/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI - Harian Jogja)
12 Oktober 2016 15:55 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Teroris mulai menyasar dunia maya untuk rekruitmen dan menggalang dana

Harianjogja.com, JOGJA-Isu terorisme masih menjadi persoalan krusial yang dihadapi bangsa-bangsa di dunia. Terorisme tidak hanya menyasar masyarakat dengan serangkaian teror bom, tetapi juga mulai membidik dunia maya melalui cyber terrorism.

Hal itu menjadi landasan Asian Professional Security Association (APSA) menggelar acara 23rd APSA International Conference Cyber Attack and Terrorism yang diselenggarakan di Ballroom Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Rabu (12/10/2016).

Vice President of APSA Indonesia, Dino Hindarto mengatakan, mengambil tema tentang Cyber Security dan terorisme, kegiatan yang rencananya diselenggarakan hingga Kamis (13/12/2016) ini sangat bermanfaat bagi para stakeholder di bidang pengamanan.

"Seiring dengan meningkatnya sistem teknologi informasi dan media, semakin memudahkan orang untuk melakukan aktifitasnya. Namun, justru ini bisa dimanfaatkaan oleh pelaku terorisme, untuk rekrutmen dan pendanaan," ujar Dino.

President APSA Indonesia, Toto Trihamtoro menambahkan, isu terorisme yang tengah menjadi sorotan dunia adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Toto mengungkapkan, ISIS adalah jenis teroris yang berbeda. Berdasarkan survei yang dilakukan, anggota kelompok teroris ini sebagian besar berlatar pendidikan tinggi seperti sarjana.

"Sedangkan anggotanya yang berpendidikan setara sekolah menengah atas hanya sekitar 17 persen saja. Maka dari itu, cyber attact menjadi lebih diperhatikan, salah satunya dengan upaya meningkatkan awareness tentang cyber terrorism," ungkap Toto.

Toto menjelaskan, sampai saat ini ancaman secara nyata dari kejahatan teror di dunia maya, terutama di Indonesia masih belum tampak.

Namun, secara tidak langsung propaganda terorisme di dunia maya yakni melalui sosial media sudah mulai bermunculan. Apalagi, lanjut Toto, mayoritas pengguna sosial media adalah masyarakat berpendidikan rata-rata SMA.