PILKADA 2017 : Pandangan Politik Berbeda, Kerukunan Beragama tetap Terjaga

Kapolda DIY Brigjen Polisi Prasta Wahyu Hidayat berfoto bersama dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang diundang dalam pertemuan untuk membahas keamanan dan ketertiban menghadapi Pemilukada 2017, di gedung Graha Sarina Vidi, Kamis (13/10/2016) malam. (Yudho Priambodo/JIBI - Harian Jogja)
15 Oktober 2016 19:20 WIB Sleman Share :

Pilkada 2017 membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk tokoh agama.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Kapolda DIY Brigadir Jendral Polisi Prasta Wahyu Hidayat mengundang tokoh agama dan tokoh masyarakat di DIY guna membahas keamanan dan ketertiban masyarakat saat masa Pemilukada tahun 2017, Kamis (13/10/2016) malam di Graha Sarina Vidi, Jalan Magelang, Mlati, Sleman.

Pertemuan tersebut juga untuk mengantisipasi adanya isu konflik sosial atau isu SARA antar agama.

Para tokoh tersebut diharapkan juga menjadi sebuah awal yang baik untuk menciptakan keamanan masyarakat di DIY. Pada pertemuan kali itu hadir seluruh pemuka agama di DIY dan perwakilan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan perwakilan dari unsur agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu.

Perwakilan masing-masing unsur agama dalam sambutannya juga sangat mengapresiasi adanya pertemuan ini. Mereka berkomitmen dan berharap keamanan dan kerukukan umat beragama dapat selalu terasa walaupun adanya pandangan politik yang berbeda.

"Untuk menjaga moral memang kita harus bersuara, supaya Jogja tidak ada masalah dan gejolak yang mengandung unsur agama," kata salah satu tokoh agama Prof. Buya Safii Ma'arif.

Buya menambahkan, secara bersama-sama kita semua terus saling menjaga keamanan, kata dia selama ini Jogja memang tidak banyak masalah dan tidak banyak gejolak lain halnya dengan kota-kota lain yang gejolak antara isu agama dan politik cukup tinggi.

"Kota lain masih lebih rentan karena politiknya belum stabil, sehingga persaingan politik sangat tajam," katanya.