LONGSOR KULONPROGO : Sama-sama Terjepit Material, Begini Cerita Paman Selamatkan Keponakan

Warga bergotong royong membersihkan tebing setinggi 10 meter dengan lebar enam meter yang longsor di Pringapus, Girimulyo. (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
16 Oktober 2016 06:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Longsor Kulonprogo menghantam sebuah rumah.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Curah hujan tinggi mengakibatkan tebing setinggi 10 meter dengan lebar enam meter longsor di Pringapus, Girimulyo pada Jumat (14/10/2016) malam. Longsor menghantam sebuah rumah dan mengakibatkan balita dan pamannya terjepit bangunan dan mengalami luka.

Kejadian berawal ketika adik pemilik rumah, Sudimaryono meminjam payung di rumah tersebut untuk pulang ke kediamannya. Namun, tiba-tiba terdengar suara bergetar di bagian atas rumah. Material longsor kemudian mengantam tembok yang langsung rubuh menimpa Sudimaryono yang sedang bersama keponakannya yang baru berusia lima tahun.

(Baca Juga : LONGSOR KULONPROGO : Tebing Ambrol, Balita dan Paman Terjepit)

Sudimaryono, menjelaskan hujan saat itu memang sedikit berbeda. Ketika ingin pulang dan meminjam payung, ia melihat salah satu tiang rumah bergoyang-goyang.

“Saya kira lindu [gempa bumi], sudah siap-siap lari,”jelasnya, Sabtu (15/10/2016)

Namun material longsor yang terdiri dari batako dan tanah kemudian menimpanya. Kakinya juga kemudian terjepit material sehingga sulit keluar.

Setelah mampu membebaskan diri, ia kemudian mencari pertolongan warga sekitar untuk menyelamatkan keponakannya. Ia sendiri kemudian harus mendapatkan tiga jahitan di bagian pelipis, bengkak di kaki dan menjalani rawat jalan. Pemilik rumah beserta keluarganya sendiri kini sementara mengungsi di masjid setempat hingga cuaca dianggap lebih membaik.

Warga sendiri baru mulai melakukan kerja bakti membersihkan sisa longsor pada Sabtu (15/10/2016) pagi karena hujan tak kunjung berhenti semalaman. Selain itu,hal ini juga untuk mengantisipasi longsor susulan yang mungkin mengakibatkan kerugian yang lebih fatal. Selain bergotong royong membersihkan material longsor, sejumlah warga lainnya juga membuat dapur umum.