PERTUMBUHAN EKONOMI DIY : Triwulan Kedua, Stabilitas Keuangan DIY Terjaga

Gula pasir yang dijual Tri Rohani di Pasar Beringharjo, Jogja masih di harga normal Rp13.000 per kg, Senin (19/9/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI - Harian Jogja)
17 Oktober 2016 07:20 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan kedua masih stabil

Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia menilai stabilitas keuangan daerah di DIY pada triwulan II 2016 terjaga. Hal ini terlihat dari indikator ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Arief Budi Santoso mengatakan, penyaluran kredit korporasi memang mengalami perlambatan pada triwulan II 2016. “Namun, angka kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) masih di bawah ambang lima persen,” ujar dia, Minggu (16/10/2016).

Ia menjelaskan, ketahanan sektor rumah tangga menunjukkan optimisme terhadap kondisi perekonomian sekaligus indikator tumbuhnya daya beli masyarakat. Hal itu terindikasi dari peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen.

Risiko kredit rumah tangga masih terjada dengan angka NPL sebesar 1,42% meskipun kredit rumah tangga tumbuh melambat pada triwulan II 2016.

Kinerja perbankan di DIY pada triwulan II 2016 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal itu sejalan dengan kinerja ekonomi DIY. “Aset perbankan tumbuh meningkat dari 8,16 persen year on year [yoy] menjadi 9,47 persen [yoy],” ungkap dia.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga Rumah Tangga (DPK RT) tercatat tumbuh 13,82% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 10,65% (yoy). Komposisi DPK tersebut didominasi tabungan sebesar 67% serta deposito 30%.

“Kredit perbankan juga tercatat meningkat dari 4,80 persen [yoy] pada triwulan lalu menjadi 6,99 persen [yoy] pada triwulan II,” kata dia.

Branch Manager CIMB Niaga Jogja Sulistya Yuniarta mengaku optimistis bisa lampaui target pertumbuhan pada 2016. Sampai kuarter tiga, pertumbuhan yang dibukukan sudah mencapai 10% yang didominasi sektor konsumsi sebesar 60%. “Melihat kondisi saat ini, kami optimistis mengenai perkembangan sampai di akhir tahun,” papar dia.

Ia menjelaskan, perkembangan didominasi keperluan yang bersifat konsumtif. Pasalnya, pada semester II 2016 banyak mahasiswa yang masuk dan banyak pula orang tua mahasiswa yang melakukan investasi di DIY.

Hal itu membawa optimisme yang tinggi. Sektor pendidikan terutama perguruan tinggi, memberikan kontribusi yang besar. Dana yang dihimpun dari perguruan tinggi meningkat cukup tajam. Dana yang dihimpun dari masing-masing perguruan tinggi bisa mencapai puluhan miliar rupiah.

“Untuk DPK se-DIY sudah Rp47 triliun. Pertumuhan kita sudah lampaui 10 persen dibandingkan tahun lalu,” ungkap dia.