Dinsos DIY Perkuat Tenaga Pelopor Perdamaian

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra KumalaPresiden Komisaris PT Aksara Solopos, Prof. Dr. H. Sukamdani Sahid Gitosardjono (kiri) didampingi K. RAy. Hj Juliah Sukamdani (dua dari kiri), dan Presiden Direktur PT Aksara Solopos Lulu Teriyanto (tiga dari kiri) saat halalbihalal di Griya Solopos, Solo, Senin (25 - 8) malam. Halalbihalal tersebut dihadiri Keluarga Besar PT Aksara Solopos Grup.
26 Oktober 2016 14:55 WIB Sunartono Jogja Share :

Dinas Sosial DIY memperkuat tenaga pelopor perdamaian (TPP)

Harianjogja.com, JOGJA - Dinas Sosial DIY memperkuat tenaga pelopor perdamaian (TPP) dengan memberikan pelatihan tentang penanganan konflik sosial. Tenaga ini diharapkan menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana sosial di DIY.

Kepala Dinsos DIY Untung Sukaryadi menjelaskan tenaga pelopor perdamaian dibentuk sebagai tindaklanjut UU No. 7/2012 dan PP 2/2016 dalam kaitan penanganan konflik sosial.

"Di dalam penanganan tersebut kita butuh tenaga pelopor perdamaian dari unsur pemuda dan anggota masyarakat yang komitmen terhadap perdamaian. Ini kami rekrut seluruh pimpinan ormas baik keagamaan dan sosial," ungkap Untung di Kantornya, Dusun Plumbon, Desa Banguntapan, Bantul, Rabu (26/10/2016).

Harapannya mereka menciptakan, kondisi damai minimal di wilayahnya. Menyelesaikan konflik secara damai, mengembangkan, teknik penyelesaian konflik secara damai dan bisa meredam potensi konflik secara damai.

Ia menyebut, TPP direkrut dari para pimpinan organisasi, mulai dari GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katholik, FKPPI, Paksi Katon hingga tokoh alumni dari paskibraka dan pemuda lainnya yang memiliki potensi penanganan konflik.

Pada angkatan kedua 2016 jumlahnya 100 orang. "Ini seluruh jajaran, representasi organisasi, representasi dari organisasi nanti mengakar. Doktrinnya  menciptakan perdamaian, satu komitmen perdamaian," tegasnya.

Menurut dia, Dinsos tidak semata-mata membuat tenaga pelopor perdamaian, tetapi pihaknya lebih membuat penguatan tenaga pelopor perdamaian.

Alasannya karena seluruh organisasi itu, pada esensinya memiliki keinginan untuk damai, tetapi masih terpisah-pisah.