TAMBANG PASIR KULONPROGO : Jalur Tambang Korbankan Tanggul Sawah Warga

Tanggul yang digunakan sebagai penahan aliran sungai dijadikan jalur kendaraan pengangkut pasir di Dusun Sawahan, Banaran, Galur, Rabu (26/10/2016). Tanggul tersebut dikhawatirkan akan jebol akibat tak kuat menahan beban kendaraan. (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
27 Oktober 2016 04:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Tambang Pasir Kulonprogo menggunakan jalur pertanian.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Warga Dusun Sawahan, Banaran, Galur mengeluhkan tanggul sawahnya yang dijadikan jalur kendaraan pengangkut pasir. Pasalnya, tanggul dikhawatirkan akan jebol karena tidak mampu menahan berat kendaraan tersebut.

Tanggul tersebut dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) yang digunakan warga sebagai jalan untuk pertanian dan mencegah air sungai meluap ke areal persawahan. Karena itu jika tanggul tersebut jebol maka sawah sekitar akan terendam banjir. Haryadi Suyitno, warga setempat mengatakan bahwa warga tidak keberatan dengan aktivitas pertambangan tersebut.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2015/06/07/tambang-pasir-kulonprogo-polres-terus-tindak-penambangan-pasir-ilegal-611993">TAMBANG PASIR KULONPROGO : Polres Terus Tindak Penambangan Pasir Ilegal)

“Tapi harus sesuai prosedur, tanggul ini untuk pertanian bukan untuk tambang,” tegasnya ketika ditemui di lokasi, Rabu (26/10/2016).

Sebelumnya, aktivitas pertambangan menggunakan jalur di sisi yang berbeda. Namun, jalur tersebut kemudian digunakan oleh pemilik lahan dan kendaraan pengangkut berpindah jalur.

Aktivitas pertambangan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak tiga bulan lalu, tetapi proses produksi baru dilakukan sekitar lima hari belakangan. Setiap harinya, sekitar 40 kendaraan pengangkut pasir yang keluar masuk melalui jalur tersebut. Haryadi mengungkapkan perusahaan penambang sebaiknya membuat jalur tersendiri untuk aktivitasnya.

Terlebih, jalur yang dipadati oleh kendaraan tersebut mengganggu aktivitas warga setempat. Berdasarkan pantauan di lapangan, tanggul sepanjang sekitar 80 meter tersebut memang menjadi akses utama ke lokasi penambangan. Sejumlah kendaraan nampak lalu lalang dengan rentang waktu yang cukup padar.

Kondisi jalan nampak rusak parah dan berlubang-lubang di berbagai sisi. Kala musim hujan, jalur tanggul tersebut juga mulai becek dan menyulitkan warga yang lewat. Meski demikian, sebuah alat berat juga nampak berupaya memadatkan jalur tersebut kemarin. Hal itu dilakukan dengan menimbung sejumlah tanah dan pasir di badan jalur.