Tambang Ilegal Bertebaran di Sekitar Gua Pindul

Antrean masuk ke Gua Pindul tidak padat, Selasa (12/7/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
28 Oktober 2016 18:55 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Tambang ilegal bertebaran di sekitar Gua Pindul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Tambang ilegal di sekitar kawasan karst Gua Pindul Desa Bejiharjo, Karangmojo bertebaran. Pemerintah tegaskan tidak akan mengeluarkan izin tambang di Karangmojo.

Kepala Bagian (Kabag) Pembangunan Desa Bejiharjo, Karangmojo Jumio mengatakan, tambang ilegal di wilayahnya tidak hanya ditemukan di Dusun Gelaran yang belakangan ditutup paksa oleh polisi. Di luar Dusun Gelaran, masih ada titik-titik penambangan yang dikemoresilkan.

Beberapa titik penambangan itu ditemukan di Dusun Kolo, Dusun Bulu dan Karanglor. “Kalau di Dusun Kolo masih beroperasi sampai sekarang. Kalau di Bulu dan Karanglor, dulu kami cek masih operasi, untuk sekarang saya belum cek lagi apakah masih operasi atau tidak,” ungkap Jumio, Kamis (27/10/2016).

Sejumlah penambangan itu berjarak sekitar dua hingga tiga kilometer dari kawasan karst Gua Pindul yang dilindungi. “Memang kalau dibanding dengan penambangan di Gelaran lebih jauh. Kalau di Dusun Gelaran hanya sekitar satu kilometer dari Pindul,” tuturnya lagi.

Penambangan dilakukan di lahan milik warga. Bedanya dengan yang ditemukan di Gelaran, penambangan tersebut dilakukan secara manual alias tidak menggunakan alat berat. Hasil tambang dijual ke pengepul batu. “Kapasitasnya [hasil tambang] kecil karena penambangan hanya menggunakan gergaji,” ujarnya.

Kendati demikian, dampak lingkungan yang disebabkan praktik penambangan tersebut telah dirasakan warga. Sejumlah ruas jalan yang dilewati truk pengangkut hasil tambal rusak dan becek. Jumio memastikan, sejumlah tambang tersebut tidak berizin.

“Karena mereka memang tidak mengajukan izin ke desa. Biasanya kalau pun tidak izin ada semacam pemberitahuan, kenyataannya tidak ada,” imbuhnya.

Menurut Jumio, sulit mendorong warga meninggalkan pekerjaannya sebagai penambang karena pekerjaan tersebut selama ini menjadi penopang ekonomi mereka. Namun belakangan, sebagian penambang di Dusun Kolo mulai belajar berwirausaha membuat usaha kuliner. Harapannya mereka meninggalkan pekerjaannya sebagai penambang batu alam.