INVESTASI KULONPROGO : Ini yang Sebabkan Wisatawan Asing Tertarik dengan Kawasan Utara

Bregada Serang Boyo dari Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo menjadi kontingen pertama yang menghibur tamu undangan dan penonton Festival Bedah Menoreh 2016, Minggu (16/10/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
29 Oktober 2016 09:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Investasi Kulonprogo berskala internasional

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Sedikitnya empat homestay berskala internasional siap hadir kawasan utara Kulonprogo. Sejumlah pengusaha pariwisata tersebut kini sedang dalam tahap studi kelayakan dan proses perizinan.

Kepala Badan Penanaman Modal Perizinan Terpadu (BPMPT) Kulonprogo, Agung Kurniawan mengatakan kawasan utara Kulonprogo lebih diminati oleh pengusaha pariwisata dibandingkan kawasan selatan.

(Baca Juga :http://www.solopos.com/2016/10/28/investasi-kulonprogo-4-homestay-internasional-siap-berdiri-di-sisi-utara-764544"> INVESTASI KULONPROGO : 4 Homestay Internasional Siap Berdiri di Sisi Utara)

Menurutnya, keberadaan bandara memang menjadi suatu faktor utama yang mengundang sejumlah investor masuk ke Kulonporogo. Namun, investor dari pariwisata sendiri lebih tertarik dengan konsep Bedah Menoreh yang akan menopang kawasan pariwisata Borobudur. Didukung dengan keindahan alam serta potensi budaya yang ada, kawasan utara menjadi jauh lebih menarik bagi wisatawan asing.

Bedah Menoreh sendiri masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. Jalan yang akan membelah pegunungan Menireh tersebut akan menghubungkan Borobudur hingga ke lokasi bandara baru di Temon. Adapun, kawasan penopang KSPN Borobudur terbagi di tiga wilayah yaitu Salaman di Magelang, Bener di Purworejo, dan Samigaluh di Kulonprogo.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga Kulonprogo, Krissutanto mengatakan setidaknya ada 16 desa yang terlewati jalur bedah menoreh antara lain di wilayah Kecamatan Kokap, Kalibawang, Samigaluh, hingga Girimulyo. Menurutnya, setiap desa memiliki potensi tertentu yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat apabila dikelola secara tepat. Sejumlah objek wisata yang bisa dimaksimalkan salah satunya Bukit Canting Mas di Kokap dan Kedung Pedut di Girimulyo.

“Ada juga potensi geoheritage bekas tambang mangaan Kliripan di Hargorejo, Kokap,” ujarnya, Jumat (28/10/2016)

Selain objek wisata alam, potensi perkebunan dan peternakan juga layak ditawarkan kepada wisatawan. Krissutanto mengatakan, hal itu bisa dilihat dari terus meningkatnya popularitas kawasan perkebunan teh di Samigaluh. Nantinya, masyarakat diharapkan tidak hanya menyediakan lokasi untuk berfoto dan menjual produk hasil budi daya. Mereka juga dapat menawarkan paket wisata edukasi, misalnya cara pengolahan daun teh.