BANDARA KULONPROGO : Warga Bingung Alih Profesi

Sejumlah warga perwakilan dari 5 desa terdampak pembangunan bandara Temon mengikuti pelatihan kewirausahaan yang digelar oleh PT Angkasa Pura 1 di Balai Desa Palihan, Temon, Senin (14/11/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
15 November 2016 08:55 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Bandara Kulonprogo, warga terdampak perlu mempersiapkan diri untuk alih profesi

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Warga terdampak pembangunan Bandara Temon masih bingung dengan peralihan profesi yang harus dilakukan paska-kehilangan lahan pertanian. Hal tersebut disampaikan dalam pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan di Balai Desa Palihan, Temon pada Senin (14/11/2016).

Sulastri, salah satu peserta pelatihan asal Jangkaran, mengatakan warga terdampak masih membutuhkan arahan untuk penyesuaian yang harus dilakukan dengan kehadiran bandara.

“Banyak lahan persawahan kami yang jadi bandara jadi kami masih bingung alih profesinya,”ujarnya.

Pasalnya, selama ini warga terdampak lebih terbiasa menggarap lahan pertanian dibandingkan berwirausaha.

Meski kehadiran bandara menghadirkan banyak kesempatan kerja, masyarakat yang umumnya bekerja di bidang pertanian masih bingung jika diharuskan mengembangkan usaha sendiri. Namun, ia berniat memulai usaha kuliner dengan pangsa pasar sejumlah pengguna bandara.

Sejumlah warga yang hadir juga menyampaikan keresahan karena minim pengetahuan untuk memulai usaha khususnya terkait permodalan. Meski sebagian besar warga mendapatkan dana ganti rugi, dikhawatirkan dana tersebut tidak memadai sebagai modal. Untuk mendapatkan permodalan sendiri membutuhkan agunan yang ditentukan yang ditakutkan tidak bisa dipenuhi warga.

Pelatihan bertajuk ‘Dua Hari Bisa Jadi Pengusaha’ ini digelar oleh PT Angkasa Pura 1 bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), yang juga merupakan BUMN,  selama dua hari. Sebagai bagian dari Corporate Social Response (CSR), pelatihan kewirausahaan ini diadakan dalam bentuk diskusi dan evaluasi mengembangkan usaha. Setidaknya ada 41 peserta dari 5 desa terdampak bandara dengan rentang usia 30 hingga 60 tahun.