PENCEMARAN LINGKUNGAN : Limbah Septictank Cemari Pasar Argosari

Salah seorang warga Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul menunjukkan septictank yang kerap meluap dan mencemari lingkungan pasar, Rabu (23/11/2016). Buruknya sanitasi di Pasar Argosari belum terselesaikan sampai sekarang. (Bhekti Suryani/JIBI - Harian Jogja)
24 November 2016 16:55 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Pencemaran lingkungan terjadi di Pasar Argosari Gunungkidul.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Kondisi sanitasi di pasar tradisional Argosari Kota Wonosari, Gunungkidul memprihatinkan. Warga penghuni pasar mengeluhkan kerapnya limbah septictank meluap dan menimbulkan bau tak sedap.

Luapan limbah dari septictank Pasar Argosari terjadi Rabu (23/11/2016) pagi hingga siang. Septictank itu berada di sisi selatan Pasar Argosari.

“Dari jam lima tadi pagi baunya [limbah meluap] dan baru selesai jam 12 siang. Baunya masya Allah enggak enak,” ungkap Pasri salah satu pedagang gerabah di Pasar Argosari terdengar kesal, saat ditemui Rabu.

Selain menimbulkan bau tak sedap, bau busuk menyengat itu kata dia juga memicu pusing kepala. Lebih dari itu, para pembeli yang biasa ramai mengunjungi kios-kios gerabah tidak berani mendekat.
“Anak saya sampai pulang ke rumah kerikan, enggak tahan dengan baunya,” tuturnya lagi.

Gunari, supir angkot yang biasa mangkal di dekat septictank mengatakan, septictank itu menampung berbagai limbah yang dihasilkan para penjual ayam, ikan, daging, tahu dan lainnya yang beroperasi di lantai dua.

“Limbah dari atas dialirkan ke septictank di bawah melalui paralon,” ujar Gunari. Masalahnya kata dia, kapasitas septictank tersebut tidak mampu menampung seluruh limbah yang dibuang.

Setiap empat bulan sekali, kapasitas septictank penuh dan limbah meluap ke jalan dan area parkir yang ada di sekitar lokasi septictank.

“Kalau sudah penuh, biasanya disedot limbahnya baru hilang baunya,” ujarnya lagi.

Namun saat musim hujan, luapan limbah kata dia terjadi lebih sering karena kapasitas septictank penuh oleh air. Sumardi, sopir angkot lainnya mengungkapkan, selama ini solusi penanganan limbah tersebut hanya berupa penyedotan.

“Enggak pernah ada pembangunan untuk memperluas kapasitas septictank. Harapan kami, septictank ini rutin dikontrol. Jangan sampai meluap dulu baru disedot,” ungkap Sumardi.

Luapan limbah septictank juga merugikan aktivitas parkir di sisi selatan pasar tradisional terbesar di Gunungkidul itu. Tukang parkir di Pasar Argosari Tugino menyatakan, akibat bau limbah yang menyengat, lahan parkirnya sepi pengunjung.

“Ada yang parkir tapi sedikit. Kebanyakan enggak mau parkir di sini karena baunya enggak enak,” tutur Tugino.