EKSPEDISI KUTUB : Pria Ini Bawa Gudeg Jogja ke Antartika

28 November 2016 12:55 WIB Nugroho Nurcahyo Jogja Share :

Ekspedisi Kutub ke-58 Japan Antartic Research Expedition (JARE) diikuti salah satunya dosen UGM

Harianjogja.com, JOGJA- Kalau boleh dicatatkan minimal di buku sejarah Jogja, Nugroho Imam Setiawan bakal tercatat sebagai orang pertama di dunia yang membawa dan menyantap gudeg ke Benua Antartika. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Nugroho Nurcahyo seputar rencana perbekalan dosen Universitas Gadjah Mada itu dalam ekpedisi ke Antartika.

Kapal penghancur es Shirase AGB 5003 telah bertolak dari dermaga Harumi, Tokyo, sejak 11 November 2016 lalu, membelah Samudra Pasifik menuju Perth, Australia. Jumat (2/12/2016) mendatang, dari dermaga Freemantle Perth, kapal yang mengangkut muatan seberat 12.650 ton tersebut akan mengangkut awak dan para peneliti, total berjumlah 80 orang untuk menjalani ekspedisi ke-58 Japan Antartic Research Expedition (JARE) ke Benua Antartika.

Di kapal itulah, dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Nugroho Imam Setiawan akan menjalani perjalanan hampir sebulan menuju stasiun Showa, sebuah stasiun penelitian milik Jepang di Antartika. Secara keseluruhan, ekspedisi itu akan berlangsung pada 28 November 2016 sampai 22 Maret 2017.

Para peneliti yang terdiri dari sepuluh topik keimuan itu, hanya memiliki waktu observasi dan pengumpulan data di Antartika total selama 55 hari atau sekitar dua bulan. Selebihnya waktu ekpedisi akan dihabiskan di Kapal Shirase untuk perjalanan ke dan dari benua ujung dunia itu.

Ditemui belum lama ini, Nugroho Imam Setiawan atau sering dipanggil Iwan itu mengatakan, persiapan yang dilakukan demi mengikuti ekpedisi langka itu, sudah cukup matang. Selain mengikuti Winter Camp Training pada 7-11 Maret 2016 lalu di Jepang, Iwan sudah menyiapkan sejumlah bekal khusus untuk ekspedisi Antartika.

“Ada 37 item yang saya siapkan dari Jogja, mulai dari baju dry fit, kaos kaki wool, penahan dingin untuk leher dan jaket polar insulated hard shell. Sebagian besar barang-barang ini saya beli di Jepang. Sulit mencari pakaian winter di Indonesia,” terang Iwan.

Bahkan untuk mengantisipasi gangguan kulit pecah-pecah akibat rendahnya tingkat kelembaban di Antartika, Iwan sampai memborong lip balm dan lotion pelembab kulit di supermarket.

Sebetulnya sejumlah perlengkapan itu sudah disediakan oleh National Institute of Polar Research Jepang, organisasi resmi penyelenggara JARE, namun jumlahnya terbatas. Para peneliti diminta membawa tambahan sendiri.

Sekalipun terdapat 80 anggota rombongan tim JARE yang terdiri dari para awak kapal dan peneliti, bisa dibayangkan bagaimana suntuknya perjalanan selama lebih dari sebulan di kapal yang memiliki panjang 138 meter dan lebar 28 meter itu. Namun jangan bayangkan ekspedisi ini akan dijalani seperti halnya ekpedisi petualangan.

Bagaimanapun, rombongan ini adalah rombongan para ilmuwan. “Kondisi lingkungannya tempat kami mengumpulkan bahan penelitian memang ekstrem, tapi kami ini bukan rombongan petualang. Jadi jangan bayangkan ini seperti ekspedisi menaklukkan gunung,” terang doktor geologi jebolan Kyushu University, Jepang ini.

Iwan membeberkan bagaimana nanti para peneliti yang kebanyakan berasal dari Jepang itu akan menyiasati kebosanan makan. Selama perjalanan dan selama di flying camp, para peneliti akan mengadakan adu sesi masak dari masing-masing daerah asal.

“Ada Indonesian Day, Thailand Day, atau Mongolian Day. Biar tidak bosan dengan makanan yang disediakan chef,” kata dia.

Iwan sudah membuat daftar makanan khas yang akan dia bawa. Ada nasi goreng, soto ayam, nasi kuning dan rendang. Untuk menu-menu tersebut, dia hanya akan membawa bumbu instan. Bahan utama akan dia ambil dari persediaan logistik.

Iwan mengaku sudah berlatih memasaknya. Namun khusus gudeg, dia akan membawa gudeg kemasan kaleng yang nantinya tinggal ia panaskan jika hendak disantap. “Jadi mungkin ini akan menjadi gudeg asli Jogja pertama yang disantap di benua Antartika,” ujarnya.

Iwan memang bukan orang Indonesia pertama yang mengikuti ekpedisi penelitian ke Antartika. Sebelumnya, tercatat ada enam ekpedisi ke Antartika lain yang melibatkan peneliti Indonesia.

Tapi ia menjadi geologis pertama dari Indonesia yang menetap dan meneliti cukup lama di benua yang 98% daratannya tertutup salju itu. Dan tentunya, dia akan menjadi orang pertama yang menyantap gudeg di Benua Abu-Abu.