MASALAH LINGKUNGAN : Kerusakan Ekosistem di Lereng Merapi Masih Terjadi

Foto ilustrasi Gunung Merapi (Gigih M. Hanafi)
03 Desember 2016 19:30 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Masalah lingkungan di lereng Merapi perlu segera dituntaskan

Harianjogja.com, SLEMAN -- Kerusakan ekosistem di lereng Gunung Merapi masih belum sepenuhnya pulih. Banyak lahan yang masih gundul dan tidak ditumbuhi pepohonan. Penghijauan dibutuhkan karena wilayah tersebut merupakan daerah resapan air.

Di sisi barat lereng Merapi, Dusun Kemiri, Purwobinangun, Pakem misalnya masih banyak lahan sepanjang tepian Kali Boyong. Sebagai salah satu resapan air, BPJS Ketenagakerjaan dan Pemerintah DIY melakukan aksi penanaman pohon di wilayah tersebut. Total terdapat 10.000 pohon yang ditanam di sepanjang kali tersebut.

“Ini untuk menjaga kelangsungan ekosistem di lereng Gunung Merapi,” kata Direktur Rencana Strategis dan Teknologi BPJS Ketenagakerjaan Sumarjono, di sela-sela kegiatan penanaman pohon di kawasan TNGM (taman nasional gunung merapi) Sleman, Jumat (2/12/2016) pagi.

Selain puluhan karyawan BPJS Ketenagakerjaan, kegiatan tersebut melibatkan warga sekitar dan relawan bencana Gunung Merapi. Terdapat tiga jenis pohon yang ditanam di wilayah tersebut, meliputi pohon aren, salak dan puspa. Menurut Sumarjono, keberadaan pohon Aren tersebut nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat. Misalnya untuk mengambil nira agar perekonomian masyarakat juga terangkat.

"Reboisasi ini dilakukan supaya ekosistem kembali lagi. Ini resapan air yang sangat dibutuhkan. Banyak warga yang mengambil air dari sini, termasuk sisi Selatan DIY," katanya.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY Sutarto mengatakan, penanaman pohon untuk konservasi lingkungan bagian dari upaya untuk memulihkan kondisi alam. Menurutnya, sumber daya alam yang ada di sekitar tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sosial ekonomi dan lain sebagainya.

“Penanaman pohon merupakan bentuk salah satu partisipasi untuk menjaga lingkungan. Jadi bukan hanya kegiatan menanam, tapi juga dimaknai sebagai komitemen melesetariakan dan menghijaukan bumi," ujarnya.

Sutarto menegaskan, kebutuhan air ke depan akan bertambah sehingga saat musim hujan masyarakat diimbau untuk memanen air. Salah satu caranya, dengan menahan air meresap kelapisan tanah. Jika itu dilakukan maka kebutuhan air dalam jangka panjang bisa teratasi.

“Masyarakat wajib menjaga lingkungan masing-masing sebagai wilayah resapan air. Apalagi, air dimanfaatkan tidak hanya warga Sleman tapi juga warga Jogja. Bahkan PDAM Jogja mensuplay kebutuhan air dari sini,” katanya.

Sementara itu, Presiden Serikat Pekerja BPJS Ketenagakerjaan Eko Purnomo menjelaskan, pihaknya juga memberikan bantuan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi 500 relawan bencana di DIY. “Bantuan tersebut diberikan karena selama ini para relawan bencana memiliki resiko sosial. Bantuan tersebut diberikan untuk memberikan jaminan kecelakaan kerja saat relawan menangani bencana,” ujar Eko.